
KEDIRI, JAWA TIMUR – Konflik antara dua kelompok penggiat masyarakat di Kota Kediri mencapai titik napas, ketika keduanya menggelar aksi demo di depan kantor Pemerintah Kota Kediri. Ketegangan melonjak tajam ketika aspirasi kubu-kubu tersebut nyaris berujung pada bentrokan, dengan saling melempar kata makian dalam suasana panas.
Aksi demo yang berlangsung di depan kantor Pemerintah Kota Kediri menjadi arena ketegangan antara dua kubu penggiat masyarakat. Meskipun keduanya memiliki aspirasi berseberangan, keduanya tetap melanjutkan aksi mereka tanpa meredakan ketegangan.
Ketatnya pengamanan dilakukan oleh petugas Kepolisian Polres Kediri Kota untuk menjaga kelancaran jalannya aksi demo. Bahkan, mobil water cannon turut disiapkan sebagai langkah preventif dalam mengamankan jalur aksi.
Kedua kubu yang terlibat dalam aksi demo ini diupayakan agar tidak bersentuhan langsung oleh petugas kepolisian yang menyekat keduanya. Langkah tersebut diambil untuk menghindari terjadinya bentrokan fisik. Seorang peserta aksi pun diamankan dan dijauhkan dari kubu lainnya sebagai langkah preventif.
Supriyo, perwakilan dari Perkumpulan Saroja, dan Trio Rendrawanto, korlap aksi demo, menjadi tokoh utama dari masing-masing kubu. Meskipun petugas kepolisian berusaha untuk mediasi, perwakilan salah satu kubu menolak tawaran tersebut meski sebelumnya sempat mengajukan permintaan mediasi.
Keberlanjutan konflik antara dua kubu penggiat masyarakat ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dan aspirasi masih menjadi pemicu ketegangan di tengah masyarakat Kota Kediri. Situasi tegang ini juga mencerminkan kompleksitas isu yang mereka usung, yang belum menemukan titik temu untuk diselesaikan secara dialogis.




