spot_img
Trending
Rabu, Agustus 5, 2026
Beranda BERITA UTAMA Cerita Supeno, Penjahit Vermak Keliling Di Tengah Perkembangan Industri Fesyen yang Semakin...

Cerita Supeno, Penjahit Vermak Keliling Di Tengah Perkembangan Industri Fesyen yang Semakin Pesat

5
Foto : Supeno, penjahit vermak keliling saat melayani pelanggan,di jl Sri langka, kelurahan Kanigoro, kecamatan Kartoharjo kota Madiun.

MADUTV, MADIUN – Di tengah maraknya toko pakaian modern dan kemudahan berbelanja secara daring, jasa penjahit vermak keliling masih mampu bertahan. Berbekal keahlian menjahit, pelayanan cepat, dan tarif yang terjangkau, profesi ini tetap menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin memperbaiki pakaian tanpa harus membeli yang baru.

Salah satu penjahit vermak keliling yang masih aktif adalah Supeno (69). Setiap hari ia mangkal di tepi Jalan Sri Langka, tepat di depan Lapangan Kanigoro, Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Dengan mesin jahit yang dipasang di atas sepeda motor, Supeno siap melayani berbagai kebutuhan perbaikan pakaian milik warga.

Beragam layanan dapat dikerjakan langsung di lokasi, mulai dari memendekkan celana, mengecilkan baju, mengganti resleting yang rusak, hingga menjahit pakaian yang sobek. Seluruh proses dikerjakan dengan cepat sehingga pelanggan cukup menunggu beberapa saat hingga pakaian selesai diperbaiki.

Kepraktisan inilah yang membuat jasa vermak keliling masih diminati masyarakat. Selain menghemat waktu, biaya yang ditawarkan juga relatif murah sehingga menjadi pilihan bagi berbagai kalangan.

Salah seorang pelanggan, Rimba Yudha, mengaku lebih memilih memperbaiki pakaian melalui jasa vermak keliling dibanding membeli pakaian baru. Menurutnya, hasil jahitan Supeno rapi, harganya terjangkau, dan pengerjaannya dapat ditunggu.

“Saya lebih memilih jasa vermak keliling karena praktis. Tidak perlu jauh-jauh datang ke tempat jahit, cukup menunggu di sini, pakaian sudah langsung diperbaiki. Hasil jahitannya juga rapi, harganya terjangkau, jadi kalau ada pakaian yang rusak saya selalu menggunakan jasa beliau.”

Selama bertahun-tahun menekuni profesi ini, Supeno mengaku rata-rata melayani sekitar lima pelanggan setiap hari. Dari pekerjaannya tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Meski tidak besar, pendapatan itu menjadi sumber nafkah utama untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Saya sudah menjalani usaha vermak keliling ini selama bertahun-tahun. Setiap hari saya berkeliling ke beberapa titik di Kota Madiun untuk melayani warga. Pekerjaan yang paling sering saya kerjakan biasanya memendekkan celana, mengecilkan baju, dan mengganti resleting. Dalam sehari, penghasilan saya sekitar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu.

Bagi Supeno, menjadi penjahit vermak keliling bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga mempertahankan profesi yang telah lama digelutinya. Kepercayaan pelanggan menjadi motivasi untuk terus memberikan hasil jahitan yang rapi dan pelayanan terbaik.

Di tengah perkembangan industri fesyen yang semakin pesat, keberadaan jasa vermak keliling membuktikan bahwa masih banyak masyarakat yang memilih memperbaiki pakaian yang masih layak pakai. Selain lebih hemat, kebiasaan tersebut juga membantu mengurangi limbah tekstil sekaligus menjadi peluang rezeki bagi para penjahit vermak keliling agar tetap bertahan di tengah arus modernisasi. (Rie)