
GRESIK – Perpustakaan Mozaik Ilmu di Desa Kedunganyar, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, menjadi lebih hidup selama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Puncak rangkaian kegiatan literasi ditandai dengan penyelenggaraan LITFEST 2026 atau Literacy Festival.
Selama hampir satu bulan, 10 mahasiswa ITS di bawah bimbingan 3 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yakni Moch Abdillah Nafis, S.Stat., M.MT., Muhammad Roy Ashiddiqi, S.T., M.T., dan Dimaz Wisnu Adipradana, S.Si., M.Si. menjalankan berbagai program edukatif.
Program yang dilaksanakan meliputi storytelling, demonstrasi sains sederhana, perpustakaan keliling, penataan sekitar 1.000 judul buku hibah dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, pelatihan pemasaran produk untuk ibu-ibu PKK, pelatihan pemanfaatan media digital, serta literasi keuangan sederhana.
Program ini merupakan bagian dari upaya ITS mendukung penguatan budaya literasi di masyarakat dan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bekerja sama dengan Pemerintah Desa Kedunganyar dan pengelola Perpustakaan Mozaik Ilmu, sasaran program tidak hanya anak-anak. Mahasiswa juga menyasar ibu-ibu PKK hingga warga umum agar dampak literasi dapat dirasakan lintas usia.
“Kami ingin mengubah pandangan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat meminjam dan menyimpan buku. Perpustakaan juga bisa menjadi ruang belajar yang aktif, menyenangkan, dan terbuka untuk semua lapisan masyarakat,” kata tim KKN ITS.
Sebagai bentuk inovasi, mahasiswa membuat survei minat baca anak menggunakan metode stiker interaktif.
Anak-anak diminta menempelkan stiker pada genre buku favorit mereka. Hasil survei kemudian divisualisasikan di Papan Data Literasi Desa agar dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan program perpustakaan ke depan.
Ruang Apresiasi Literasi Anak
Puncak kegiatan KKN diwujudkan melalui LITFEST 2026 yang digelar di Balai Desa Kedunganyar. Festival ini menjadi wadah bagi siswa SD untuk menunjukkan kemampuan membaca, bercerita, dan berbicara di depan umum.
LITFEST 2026 menghadirkan dua kategori lomba. Pertama, Lomba Membaca Nyaring untuk siswa kelas 1-3 SD. Kedua, lomba Storytelling bertema cerita rakyat Indonesia untuk siswa kelas 4-6 SD.
Melalui kompetisi ini, anak-anak dilatih memahami isi bacaan, mengekspresikan cerita secara kreatif, serta membangun rasa percaya diri untuk tampil di depan publik.
Kepala Desa Kedunganyar, Endang Kusumowati, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa.
“Program ini sangat membantu, terutama dalam pengelolaan sekitar seribu buku hibah dari Perpusnas. Dengan keterbatasan SDM desa, kehadiran mahasiswa menjadi dukungan yang sangat berarti,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan Ketua RT setempat, Muji. Menurutnya, program KKN memberikan alternatif kegiatan edukatif bagi anak-anak selama masa libur.
“Anak-anak sekarang punya kegiatan yang lebih bermanfaat saat libur. Mereka bisa datang ke perpustakaan untuk membaca dibanding hanya bermain gawai,” katanya.
Salah satu mahasiswa KKN menambahkan, kehadiran perpustakaan keliling juga membantu menjangkau anak-anak yang rumahnya jauh dari pusat desa.
Melalui program ini, mahasiswa berharap Perpustakaan Mozaik Ilmu terus berkembang sebagai pusat literasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat. Ke depan, program yang telah dirintis diharapkan dapat dilanjutkan oleh desa dan pengelola perpustakaan agar budaya literasi di Kedunganyar tumbuh secara berkelanjutan. (Haq)




