spot_img
Trending
Senin, September 21, 2026
Beranda POLITIK Romy Soekarno Dorong Gen Z Jadi Pemilih Kritis, Waspadai Hoaks hingga Buzzer...

Romy Soekarno Dorong Gen Z Jadi Pemilih Kritis, Waspadai Hoaks hingga Buzzer Jelang Pemilu 2029

10

BLITAR, MADUTV – Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, mendorong Generasi Z (Gen Z) menjadi pemilih yang kritis dan mandiri di tengah derasnya arus informasi digital. Pesan tersebut disampaikan Romy saat menghadiri Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 di Kota Blitar, Minggu (20/9/2026).

Romy menilai Gen Z memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia. Kedekatan generasi muda dengan teknologi digital dinilai menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantang.e (AI).

“Gen Z ini sangat nyambung ketika saya bicara digitalisasi pemilu, bagaimana itu hoaks, bagaimana itu buzzer. Saya memberikan arahan bagaimana mereka menjadi pemilih yang berjiwa merdeka,” ujar Romy.

Menurut Romy, pendidikan pemilih tidak cukup hanya memberikan pemahaman mengenai tata cara mencoblos atau teknis penyelenggaraan pemilu. Pemilih muda juga perlu dibekali kemampuan untuk melihat rekam jejak kandidat, memahami konsekuensi politik uang, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang dari pilihan politiknya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya memiliki “jiwa merdeka” dalam menentukan pilihan politik. Artinya, pemilih diharapkan mampu mengambil keputusan berdasarkan kesadaran sendiri dan tidak mudah terbawa arus informasi maupun kepentingan tertentu.

Romy juga memperkenalkan gagasan e-operating system yang disebutnya sebagai “Kawah Candradimuka” bagi Gen Z.

Melalui gagasan tersebut, generasi muda diharapkan dapat mengenal simulasi pemilu berbasis teknologi, termasuk mengenai e-voting.

Selain menjadi pemilih kritis, Gen Z juga diharapkan dapat menjadi penghubung literasi digital bagi masyarakat yang belum terbiasa menggunakan teknologi.
Kelompok tersebut antara lain masyarakat di sektor pertanian dan peternakan yang membutuhkan pendampingan dalam memahami perkembangan teknologi dan informasi digital.

“Yang ekonomi menengah ke bawah atau yang tidak mengerti teknologi, kalianlah yang harus bertugas untuk membicarakan kepada mereka,” katanya.

Romy menegaskan Gen Z tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi.
Generasi muda perlu memiliki kemampuan memilah informasi, mengenali hoaks dan buzzer, serta memperluas wawasan mengenai sejarah, geopolitik, teknologi hingga perkembangan AI.

“Pendidikan pemilih berkelanjutan harus mampu melahirkan generasi muda yang kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Romy berharap bekal tersebut dapat mendorong Gen Z ikut berperan dalam mengawal kualitas demokrasi Indonesia, termasuk menjelang Pemilu 2029.

Dorongan agar Gen Z memahami tantangan pengawasan pemilu di ruang digital juga disampaikan Romy dalam kegiatan lain di Kota Blitar pada September 2026. (Suk)