
MADUTV, BLITAR – PT. Rejoso Manis Indo (RMI) menggelar tradisi Manten Tebu sebagai simbol dimulainya musim giling tahun 2026. Kegiatan yang sarat nilai budaya dan spiritual ini berlangsung meriah dengan dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Blitar, jajaran manajemen, karyawan, petani tebu, serta tokoh masyarakat setempat.
Prosesi Manten Tebu merupakan tradisi turun-temurun yang telah lama dilestarikan oleh industri gula di Indonesia. Dalam tradisi tersebut, sepasang batang tebu pilihan yang disebut sebagai “pengantin tebu” diarak menuju pabrik sebelum proses giling perdana dimulai.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol dimulainya musim produksi, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen tebu yang telah diperoleh para petani. Selain itu, prosesi ini menjadi doa bersama agar seluruh rangkaian musim giling berjalan lancar, aman, dan menghasilkan produksi yang optimal.
Suasana semakin meriah dengan iringan kesenian tradisional dan doa bersama sebelum tebu pengantin memasuki area gilingan. Warga yang hadir tampak antusias menyaksikan prosesi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat sekitar pabrik gula.
Para petani tebu berharap musim giling tahun ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil yang maksimal. Mereka juga berharap kerja sama antara perusahaan dan petani terus terjalin erat demi mendukung peningkatan produksi gula nasional.
Vice President Direktor PT RMI- Mitra Phol Grub Syukur Iwantoro mengatakan, untuk tahun ini PT RMI menargatkan 1,55 juta ton, dengan rendemen mencapai 8 persen. Untuk mendukung program tersebut pabrik telah menyiapkan kapasitas giling sebesar 10.000 TCD, serta menargetkan produksi gula kristal putih sebesar 128.000 ton.
“Target kita untuk tahun ini adalah 1,55 juta ton dan untuk mendukung program tersebut pabrik telah menyiapkan kapasitas giling sebesar 10.000 TCD, serta menargetkan produksi gula kristal putih sebesar 128.000 ton gula, ujar Iwantoro, Sabtu (30/5/2026).
Selain itu, tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan industri gula tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan produksi, tetapi juga oleh kebersamaan, kerja keras, serta doa dari seluruh pihak yang terlibat.
“Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan industri gula tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan produksi, tetapi juga oleh kebersamaan,” imbuhnya.
Dengan digelarnya tradisi Manten Tebu, PT RMI tidak hanya menandai dimulainya musim giling, tetapi juga menunjukkan komitmennya dalam menjaga kearifan lokal dan memperkuat hubungan harmonis antara perusahaan, petani, dan masyarakat sekitar. (Suk)




