
MOJOKERTO – Inovasi pupuk ramah lingkungan kembali dilahirkan kampus. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan Pupuk Granular Probiotik Tabur Berbasis Grafenik Karbon kepada petani di Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ini bertujuan mendongkrak produktivitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Acara dipimpin oleh Retno Asih, M.Si., Ph.D. bersama 5 dosen lintas disiplin dan 11 mahasiswa KKN ITS. Kehadiran tim disambut baik oleh Kepala Desa Sumolawang H. Aminudin, perangkat desa, serta anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sumolawang.
Sulap Sekam Padi Jadi Pupuk Canggih
Dalam sosialisasi, tim ITS memaparkan keunggulan, kandungan, hingga cara aplikasi pupuk probiotik berbasis grafenik karbon di lahan pertanian.
Komponen utama pupuk ini adalah material karbon berstruktur menyerupai oksida grafena yang dihasilkan dari sekam padi melalui teknik pirolisis khusus. Berbeda dengan pembakaran biasa, proses ini menghasilkan karbon berpori yang menjadi media hidup bagi mikroorganisme probiotik.
“Struktur karbon ini membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, dan mendukung pertumbuhan tanaman secara alami,” terang Retno Asih.
Selain teori, peserta juga diajak praktik langsung membuat Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan pupuk probiotik.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan terkait efektivitas, dosis penggunaan, hingga manfaat pupuk tersebut.
Bukti Nyata: Panen Jagung Capai 24 Ton Basah/Ha
Petani Sumolawang, Subandi, menjadi salah satu yang sudah lebih dulu menerapkan pupuk ini di lahan jagungnya. Ia mengaku puas dengan pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang meningkat.
Sebagai bentuk evaluasi, tim bersama petani melakukan pengambilan sampel jagung siap panen di lahan uji. Hasil pengukuran menunjukkan produktivitas sekitar 24 ton jagung pipil basah per hektare.
Dengan asumsi kadar air 30-35%, estimasi bobot kering jagung pipil mencapai 18-19 ton per hektare. Angka ini dinilai jauh lebih tinggi dari rata-rata produktivitas dengan pupuk konvensional.
Komitmen ITS untuk Pertanian Berkelanjutan
Melalui inovasi ini, ITS berharap dapat memberikan solusi konkret bagi petani untuk meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.
“Selain meningkatkan produktivitas, inovasi ini juga memanfaatkan limbah pertanian seperti sekam padi menjadi produk bernilai tambah,” pungkas Retno.
ITS ke depan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah desa dan kelompok tani agar hasil riset bisa lebih cepat hilirisasi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (Haqi)




