spot_img
Trending
Rabu, Mei 20, 2026
Beranda RAGAM BERITA Dzurriyah Pendiri Turun Tangan Muktamar NU 2026 Jadi Momentum ‘Bersih-Bersih’ Penumpang Gelap

Dzurriyah Pendiri Turun Tangan Muktamar NU 2026 Jadi Momentum ‘Bersih-Bersih’ Penumpang Gelap

346

MADUTV, JOMBANG – Polarisasi internal menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026 memicu alarm keras dari kalangan pesantren akar rumput. Momentum tertinggi organisasi ini didesak menjadi ajang pembersihan total dari para pemburu kekuasaan yang kerap memanfaatkan NU demi syahwat politik pribadi dan kelompok.

Gugatan moral ini disuarakan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib). Ia menegaskan, warga NU hari ini merindukan kembalinya marwah organisasi yang mandiri, berwibawa, dan bebas dari figur-figur problematik yang gemar memelihara konflik.

“Kita butuh sosok yang bisa menghidupkan marwah NU, bukan orang yang hidup dari NU. Jangan lagi pilih tokoh yang memposisikan organisasi ini hanya sebagai batu loncatan atau alat tawar politik,” ujar Gus Ulib tegas saat ditemui di Jombang, Selasa (19/5/2026).

Menjaga Jarak Aman dengan Penguasa

Kritik tajam Gus Ulib ini menjadi sinyal kuat bahwa akar rumput NU menginginkan pembenahan struktural yang radikal. PBNU ke depan harus dipimpin oleh figur yang selesai dengan urusan logistik pribadinya, memiliki integritas total, dan mampu berdiri setara dengan pemerintah tanpa harus mendiktekan NU di bawah ketiak kekuasaan.

Di tengah kegelisahan tersebut, muncul desakan untuk mengembalikan kepemimpinan NU kepada trah atau dzurriyah sang pendiri, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Nama KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim (Gus Irfan), yang saat ini menjabat sebagai Menteri Haji dan Umrah, mencuat sebagai representasi pemulihan marwah tersebut.

Sebagai cucu pendiri NU, Gus Irfan dinilai memiliki legitimasi moral dan darah yang kuat di mata kaum sarungan. Lebih dari itu, posisinya di kabinet Presiden Prabowo Subianto dianggap strategis untuk mengunci posisi tawar NU agar tetap independen sebagai kekuatan warga sipil (civil society), bukan pengekor kebijakan.

“Beliau punya kombinasi manajerial tingkat nasional dan kedekatan emosional dengan pesantren. Integritas inilah yang dibutuhkan untuk menyetop intervensi luar dan membersihkan kepanitiaan Muktamar dari titipan-titipan kepentingan,” tambah Gus Ulib.

Reformasi Total Kepanitiaan Muktamar

Tak hanya soal figur, Gus Ulib juga mendesak adanya reformasi total dalam tubuh kepanitiaan Muktamar NU 2026. Pembenahan ini krusial demi menjamin proses suksesi berjalan transparan, jujur, dan bebas dari permainan uang (money politics).

Muktamar Agustus 2026 diprediksi akan menjadi babak penentuan: apakah NU akan kembali menjadi rumah besar moral bangsa yang independen, atau tenggelam dalam pusaran pragmatisme politik praktis. (Aji)