spot_img
Trending
Rabu, Juni 17, 2026
Beranda RAGAM BERITA Menjelang Munas & Konbes NU: Pesantren Ploso Siap Jadi Tuan Rumah dan...

Menjelang Munas & Konbes NU: Pesantren Ploso Siap Jadi Tuan Rumah dan Tantangan Penguatan Keagamaan di Era Digital dan Reformasi Internal Organisasi Menjadi Tema Hangat

6

MADUTV, KEDIRI – Jelang Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU sejumlah kabar terus menggelinding baik persiapan maupun kemunculan sejumlah Nama yang akan digadang gadang dalam giat itu. Dan suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Selasa (16/6/2026).

Tepat pukul 13.00 WIB, ratusan anggota Banser menggelar apel siaga sekaligus rapat koordinasi (rakor) final sebagai tanda dimulainya hitungan mundur menuju Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU).

Acara yang akan berlangsung pada 20-22 Juni 2026 ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan momen krusial yang menjadi “jembatan” strategis sebelum Muktamar NU digelar. Dengan tema besar penguatan keagamaan di era digital dan reformasi internal organisasi, Ploso bersiap menyambut ratusan ulama dan kader terbaik bangsa.

KH. Abdurrahman Al-Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar, selaku pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso dan tuan rumah acara, mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan PBNU. Bagi Gus Kautsar, kehadiran para ulama sepuh dan ribuan peserta di pesantrennya adalah bentuk penghormatan tertinggi.

“Alhamdulillah, kami memaksimalkan segala persiapan dalam rangka mengsyukuri kesempatan berkhidmat kepada para ulama. Kami mohon doa agar Munas dan Konbes ini berjalan aman, nyaman, dan benar-benar bermanfaat,” ujar Gus Kautsar di hadapan awak media.

Gus Kautsar menargetkan sekitar 1.000 orang akan hadir, terdiri dari 500-an peserta resmi, tamu undangan, para masyayikh (ulama sepuh), dan pengurus daerah. Ia berharap momentum ini dapat mempererat silaturahmi antar-kiai, sebuah tradisi mahal yang dirindukan dalam tubuh NU.

“Kami ingin mengawinkan dua kutub: kutub awal (para sesepuh) dan kutub akhir (kader muda), sehingga terjadi sambung rasa dan ilmu di tempat yang mulia ini,” tambahnya.

Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, Sekretaris Steering Committee (SC) Munas dan Konbes, menegaskan bahwa agenda kali ini sangat strategis. Karena waktunya berimpitan kurang dari satu bulan sebelum Muktamar, Munas dan Konbes bertugas menyiapkan materi matang untuk ditetapkan nanti di forum tertinggi tersebut.

Dua isu utama yang akan mendominasi pembahasan adalah reformasi organisasi dan isu keagamaan kontemporer.

“Terdapat banyak usulan masuk ke steering committee, salah satunya terkait pelembagaan Ahlul Halli wal Aqdi. Selama ini lembaga ini bersifat ad-hoc setelah pemilihan Rais Aam. Ke depan, ada wacana untuk melembagakannya secara permanen agar bisa mendampingi Rais Aam dan menjadi anggota Majelis Tashrif,” jelas Prof. Nuh.

Selain struktur, dinamika teknologi juga menjadi perhatian serius. NU dinilai perlu memberikan kepastian syariah terkait perkembangan zaman, seperti mata uang kripto, aset digital, dan etika bermedia sosial.

“Masyarakat butuh panduan. Apa hukum kripto? Bagaimana relasi agama dengan dunia digital? Ini akan dibahas tuntas oleh para alim ulama agar umat tidak bingung,” tegas mantan Menteri Pendidikan tersebut.

Sementara itu, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Menteri Sosial RI yang juga menjabat Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua Organizing Committee (OC), memberikan bocoran menarik seputar dinamika politik internal NU menjelang Muktamar.

Terkait lokasi Muktamar berikutnya, Gus Ipul menyebutkan beberapa daerah telah mengajukan diri, termasuk NTB, DKI Jakarta, Sumatera Barat, dan beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. “Semua punya peluang sama. Jawa Timur juga memiliki peluang besar karena basis massanya kuat. Keputusan akhir ada di tangan Munas dan Konbes,” ujarnya.

Menyoal potensi calon Ketua Umum PBNU periode mendatang, Gus Ipul menganalisis berdasarkan statistik sejarah kepemimpinan NU selama 40 tahun terakhir. Pola yang muncul menunjukkan bahwa calon kuat biasanya berasal dari mereka yang pernah menjabat sebagai Katib Aam (Sekretaris Jenderal bidang keagamaan) atau Ketua PWNU.

“Secara statistik, Prof. Nasaruddin Umar sangat berpotensi karena beliau pernah menjadi Katib Aam di era Kiai Sahal Mahfudh. Sejarah mencatat, Gus Dur, Kiai Said, dan Kiai Yahya Cholil Staquf juga pernah menempati posisi strategis sebelum akhirnya memimpin NU,” papar Gus Ipul.

Namun, Gus Ipul secara tegas menyatakan dirinya tidak berminat mencalonkan diri maupun dicalonkan. “Saya sudah nyatakan dengan jelas, saya tidak mau mencalonkan diri dan tidak mau dicalonkan. Fokus saya sekarang adalah memastikan acara ini sukses,” pungkasnya.

Pengamanan Ketat dan Kehadiran Presiden

Untuk menjamin kelancaran acara, ribuan personel Banser dan Pagarnusa akan dikerahkan. Apel siaga yang dilakukan hari ini merupakan pengecekan final terhadap kesiapan lapangan.

Rangkaian acara dijadwalkan dibuka secara resmi pada Sabtu malam di Pondok Pesantren Al Falah Ploso dengan mengundang pejabat daerah dan tokoh masyarakat. Sementara itu, puncak penutupan direncanakan akan dilaksanakan di Bangkalan, Madura, pada 23 Juni 2026.

PBNU tengah dalam tahap konfirmasi akhir untuk mengundang Presiden Prabowo Subianto guna memberikan amanat penutupan. Jika jadwal memungkinkan, kehadiran orang nomor satu di Indonesia tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan ormas terbesar di tanah air.

Dengan persiapan yang matang dan semangat keikhlasan dari seluruh elemen, Munas dan Konbes NU di Ploso diharapkan tidak hanya melahirkan keputusan strategis, tetapi juga memperkuat ukhuwah islamiyah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Ef)