spot_img
Trending
Selasa, Mei 26, 2026
Beranda EKONOMI Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga ditengah Daya Beli Masyarakat Yang Cenderung...

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga ditengah Daya Beli Masyarakat Yang Cenderung Menurun

15

MADUTV, KEDIRI – Demi menjaga kestabilan dari sektor jasa keuangan dan peningkatan sosialisasi literasi disektor Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri terus melakukan terobosan dan mencatatkannya pada kinerja industri jasa keuangan di wilayah kerjanya pada posisi Desember 2025 tetap terjaga dengan baik dan menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil ditengah kecenderungan menurunnya daya beli masyarakat saat ini.

Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, dalam kesempatan kegiatan Media Update disalah satu rumah makan di Jalan Pattimura Kota Kediri,Rabu (11/3/2026) petang menyampaikan bahwa stabilitas tersebut tercermin dari meningkatnya kepercayaan masyarakat dalam menempatkan dana pada sektor perbankan maupun pasar modal.

Meski demikian, OJK Kediri tetap mencermati sejumlah sektor yang mengalami perlambatan, terutama yang dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat serta dinamika kondisi ekonomi global yang terjadi saat ini.

Fungsi intermediasi perbankan di wilayah kerja OJK Kediri terus menunjukkan kinerja yang solid. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2025 tumbuh sebesar 4,20 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp106,9 Triliun.

“Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan pada produk tabungan dan giro”, jelas Ismirani Kepala OJK Kediri.

Dari sudut penyaluran kredit, terjadi perlambatan dengan pertumbuhan sebesar minus 1,24 persen (yoy). Penurunan ini terutama terjadi pada sektor ekonomi pengolahan serta perdagangan besar dan eceran, seiring pelemahan daya beli masyarakat, serta sikap kehati-hatian pelaku usaha dalam merespons dinamika kondisi ekonomi global yang berkepanjangan dan berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi daerah.

Dan profil risiko perbankan tetap terjaga, dengan rasio kredit/pembiayaan bermasalah (Non-Performing Loan/Financing) sebesar 3,19 persen, masih berada di bawah ambang batas (threshold) yang ditetapkan.

Sementara itu di Tingkat inklusi di bidang Pasar Modal terus menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Jumlah Single Investor Identification (SID) tumbuh 32,97 persen (yoy) menjadi 535.568 SID. Instrumen investasi masih didominasi oleh produk Reksadana, dengan jumlah investor mencapai 496.295 SID atau tumbuh 33,21 persen (yoy).

Selain itu, nilai transaksi saham masyarakat di wilayah kerja OJK Kediri mencapai Rp6,2 triliun, meningkat signifikan sebesar 269,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan semakin meningkatnya minat masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal.

Di posisi sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) menunjukkan dinamika
sebagai berikut:
1. Perusahaan Pembiayaan

Piutang pembiayaan mengalami perlambatan sebesar 1,42 persen (yoy) menjadi Rp6,8 Triliun, yang dipengaruhi oleh penurunan pembiayaan multiguna sebesar
4,42 persen (yoy).

Meskipun demikian, profil risiko tetap terjaga dengan rasio NonPerforming Financing (NPF) gross sebesar 3,02 persen, membaik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,03 persen.

2. Modal Ventura
Pembiayaan modal ventura menunjukkan pertumbuhan yang kuat sebesar 15,92
persen (yoy) dengan nilai pembiayaan mencapai Rp323,70 Miliar.

3. Pergadaian dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)
Penyaluran pembiayaan industri pergadaian yang berkantor pusat di wilayah kerja OJK Kediri pada Desember 2025 tercatat tumbuh 709,10 persen (yoy) menjadi Rp4,67 Miliar, antara lain didorong oleh penambahan dua perusahaan gadai swasta.

Sejauh ini, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) menunjukkan trend positif dengan penyaluran pembiayaan tumbuh sebesar 1,08 persen yoy menjadi Rp77,05 Miliar. Sampai dengan Desember 2025, terdapat 17 LKM di wilayah kerja OJK Kediri yang terdiri dari 13 LKM Konvensional dan 4 LKM Syariah.

Dan Perkembangan Edukasi Keuangan dan Pelindungan Konsumen, Sepanjang periode 1 Januari 2025 hingga 31 Desember 2025, OJK Kediri telah menyelenggarakan 130 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 81.134 peserta. Dalam rangka mendukung program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), OJK Kediri juga melaksanakan 63 kegiatan edukasi yang menjangkau 34.264 peserta di 13 kota/kabupaten wilayah kerja OJK Kediri.

Upaya peningkatan literasi keuangan tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di 13 kota/kabupaten wilayah kerja OJK Kediri antara lain melalui program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir, Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), Edukasi Keuangan Hari Indonesia Menabung, Kediri Financial Festival, dan edukasi kepada kelompok penyandang disabilitas.

Dari sisi layanan konsumen, selama periode 1 Januari 2025 hingga 31 Desember 2025, OJK Kediri menerima 1.301 permintaan layanan melalui berbagai kanal layanan yaitu surat, tatap muka (walk – in), maupun telepon. Berdasarkan sektor industri, 582 pengaduan berasal dari sektor perbankan, 260 dari perusahaan pembiayaan, 232 dari industri financial technology, dan 132 dari sektor keuangan lainnya.

Tiga topik utama pengaduan masyarakat meliputi Restrukturisasi/Relaksasi Kredit/Pembiayaan/Pinjaman (34,44 persen), Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) (24,06 persen), dan fraud eksternal seperti penipuan, pembobolan rekening, skimming, dan kejahatan siber (7,38 persen).

OJK Kediri berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan dan pelaksanaan edukasi dalam rangka pelindungan konsumen serta memastikan stabilitas sektor jasa keuangan demi mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (Ef)