
BLITAR, MADUTV — Puluhan atlet, wali atlet, pelatih, serta pengurus cabang olahraga, menggelar aksi aspirasi damai menuntut Pemerintah Kota Blitar segera mencairkan dana hibah dan mengembalikan aset kantor sekretariat KONI Kota Blitar yang selama ini dikuasai pemda.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum KONI Kota Blitar, Elim Tyu Samba, saat berorasi menyampaikan bahwa pihaknya sebenarnya tidak ingin turun ke jalan. Namun berbagai jalur sudah ditempuh dan menemui jalan buntu.
“Kami sudah mengirimkan tiga kali permohonan audiensi untuk bertemu Bapak Wali Kota, tidak ada jawaban. Saat hearing bersama DPRD pun, Pak Wali Kota tidak hadir. Padahal hasil rekomendasi dari dewan sudah dikirim ke Pemda, sampai hari ini nihil, tidak ada tanggapan,” tegasnya, Senin (7/9/2026).
Menurut Elim, SK pengesahan dirinya sebagai Plt Ketua sudah turun dari KONI Jawa Timur dan seluruh persyaratan administrasi sudah lengkap. Namun Pemkot beralasan Plt tidak berwenang menandatangani dokumen pengeluaran anggaran maupun mengambil alih kantor sekretariat KONI.
“Padahal kami sudah koordinasi dengan Kementerian Olahraga dan KONI Pusat, Plt itu sah dan bisa menjalankan fungsi tersebut. Di daerah lain juga bisa. Tidak ada alasan yang jelas, makanya kami harus bersuara di sini,” ungkapnya.
Elim juga menjelaskan bahwa anggaran hibah sebenarnya sudah ada dan sempat cair pada Januari–Maret 2026 sebesar Rp385 juta. Namun sisa anggaran tersimpan di Dispora dan belum disalurkan ke KONI. Padahal persiapan Porprov yang akan digelar pertengahan tahun depan sudah mendesak.
“Kami hanya kasihan kepada atlet-atlet. Ini sudah September, persiapan Porprov terhambat. Yang jadi korban sebenarnya adalah mereka yang berjuang mengharumkan nama daerah,” ujarnya penuh haru.
Poin penting, dalam aksi tersebut telah ditandatangani nota kesepahaman yang berisi dua tuntutan utama: segera mencairkan dana hibah dan mengembalikan kantor sekretariat KONI. Dokumen ditandatangani oleh Ely selaku Plt Ketua KONI, Ketua DPRD Kota Blitar Syahrul, serta Pj Sekda Kota Blitar Tri Iman Prasetyono selaku perwakilan Pemkot.
“Kami memberi batasan waktu secepatnya, bahkan hari ini juga. Harapannya Pemda tidak ingkar janji. Jika sampai tidak ada kejelasan, kami akan berdiskusi kembali dengan seluruh unsur insan olahraga. Yang pasti kami tetap tertib,” janji Elim.
Ia juga menegaskan bahwa aksi murni atas kemauan sendiri dari para insan olahraga, bukan instruksi dari pengurus. Ia juga mengaku sudah mengantisipasi gangguan dari oknum luar dengan memberikan tanda khusus berupa pita warna pink kepada peserta aksi.
“Kami harap pemerintah daerah menanggapi ini secara dewasa. Jangan ada konflik yang tidak perlu, karena yang dirugikan adalah para atlet kita,” pungkas Elim. (Suk)




