
Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Yayasan Viva Anak Kanker Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU) untuk memperkuat kerja sama dalam peningkatan perawatan bagi anak-anak yang menderita kanker. Penandatanganan MOU tersebut berlangsung di Jakarta pada Senin (15/1/2024).
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjadi saksi dalam proses penandatanganan MOU antara Kementerian Kesehatan RI dan Yayasan Viva Anak Kanker Indonesia. Menkes menyampaikan bahwa dua jenis kanker darah tersebut merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh anak-anak Indonesia.
Dalam kerja sama ini, kedua belah pihak sepakat untuk memperkuat perawatan bagi anak-anak yang menderita kanker melalui pengobatan medis, pendidikan, dan penelitian translasi yang dimulai dengan Acute Lymphoblastic Leukaemia. Menkes Budi menjelaskan bahwa pendidikan akan dilakukan melalui program pelatihan dokter, perawat, apoteker, dan teknisi laboratorium Indonesia di bidang onkologi pediatri di Indonesia atau di luar negeri, yang akan dimulai di Singapura.
Pengobatan medis akan melibatkan pengenalan dan peningkatan kapasitas transplantasi sumsum tulang serta terapi sel dan gen, yang akan dimulai dengan terapi sel CART di Indonesia. Selanjutnya, penelitian akan difasilitasi dengan pendirian laboratorium kelas dunia di Jakarta untuk menangani pengujian terpusat yang diperlukan untuk diagnosis dan pelacakan anak-anak penderita kanker. Pembentukan kelompok studi penelitian translasi akan dimulai dengan Acute Lymphoblastic Leukaemia.
Selain itu, kedua belah pihak juga sepakat untuk menjamin akses ke obat-obatan dan perawatan yang diperlukan untuk semua anak yang menderita kanker.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan, “Kerja sama ini mencakup aspek pengobatan, pendidikan, dan penelitian untuk meningkatkan kualitas perawatan anak-anak penderita kanker. Kami berkomitmen untuk memberikan akses yang lebih baik dan menyeluruh bagi mereka yang memerlukan.”







