spot_img
Trending
Senin, Oktober 26, 2026
Beranda BERITA UTAMA Festival Santri Pangongangan jadi Wadah Kreativitas Santri dan Penggerak UMKM Lokal

Festival Santri Pangongangan jadi Wadah Kreativitas Santri dan Penggerak UMKM Lokal

10
Foto : Drama Kolosal Sunan Kalijaga menjadi daya tarik di acara festival santri pangongangan di hari Santri.

MADIUN, MADUTV – Festival Santri Pangongangan yang digelar di Jalan Pandan, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, mendapat apresiasi dari Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun. Kegiatan yang memeriahkan peringatan Hari Santri ini dinilai mampu memadukan syiar Islam, pelestarian seni budaya, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Festival tersebut turut dihadiri Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun, Lurah Pangongangan Eva Anjarika Rahmawati, serta Camat Manguharjo. Berbagai kegiatan dihadirkan, mulai dari drama kolosal Sunan Kalijaga, pertunjukan tari, Musabaqah Syarhil Quran (MSQ), lantunan Asmaul Husna, hingga penampilan hadrah.

Selain kegiatan religi dan seni budaya, festival ini juga menghadirkan bazar UMKM serta pelayanan publik berupa pemeriksaan kesehatan gratis, pelayanan administrasi kependudukan, dan pemutakhiran data Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Plt Wali Kota Apresiasi Keterlibatan Masyarakat Lokal

Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengapresiasi konsep kegiatan yang tidak hanya mengedepankan aspek keagamaan, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan masyarakat untuk menampilkan potensi yang dimiliki.

Menurutnya, kegiatan berbasis masyarakat seperti Festival Santri Pangongangan perlu terus dikembangkan dan dapat menjadi percontohan bagi kelurahan lain di Kota Madiun.

“ Hari Santri yang dikemas selain agamis, juga dikemas untuk ekonomi, yang melibatkan UMKM dan talenta-talenta di kelurahan dikeluarkan. Pola-pola ini yang terus dikembangkan di setiap kelurahan, nantinya bisa menjadi percontohan bagi kelurahan-kelurahan lainnya untuk momen apa pun yang melibatkan masyarakat,” ujar Bagus Panuntun.

Ia juga menyampaikan rencana penganggaran sebesar Rp200 juta untuk setiap kelurahan pada tahun depan, yang direncanakan untuk mendukung delapan kali kegiatan di masing-masing kelurahan.

Bagus menegaskan bahwa kegiatan tersebut harus melibatkan masyarakat lokal sebagai peserta. Dengan demikian, potensi warga di setiap wilayah dapat lebih berkembang dan memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat setempat.

Rencana ini diharapkan dapat mendorong kelurahan-kelurahan di Kota Madiun untuk lebih aktif menyelenggarakan kegiatan yang produktif, sekaligus membuka ruang bagi kreativitas warga dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Berawal dari Potensi Santri di Masjid

Sementara itu, Lurah Pangongangan Eva Anjarika Rahmawati menjelaskan bahwa gagasan penyelenggaraan Festival Santri Pangongangan berawal dari pengamatannya terhadap potensi para santri di wilayahnya.

Saat menghadiri kegiatan santri di sejumlah masjid, ia melihat banyak bakat dan kemampuan yang dimiliki anak-anak di Kelurahan Pangongangan. Potensi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan untuk menghadirkan kegiatan yang dapat memberikan ruang bagi para santri untuk tampil dan mengembangkan kreativitas.

Berangkat dari momentum Hari Santri, pihak kelurahan bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) kemudian menginisiasi Festival Santri Pangongangan.

“Konsep kegiatan Festival Santri Pangongangan ini berawal saat saya diundang dalam acara santri-santri Pangongangan di setiap masjid. Ternyata banyak sekali potensi dari santri-santri Pangongangan,” kata Eva.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut melibatkan anak-anak dari sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), taman kanak-kanak (TK) di wilayah Kelurahan Pangongangan, serta anak-anak dari taman pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Keterlibatan berbagai jenjang pendidikan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan, meningkatkan rasa percaya diri, serta menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan sejak dini.

Perpaduan Religi, Budaya, dan Pemberdayaan Ekonomi

Festival Santri Pangongangan tidak hanya menjadi ajang pertunjukan keagamaan, tetapi juga wadah untuk mempererat hubungan sosial masyarakat dan mengembangkan potensi lokal.

Pementasan drama kolosal Sunan Kalijaga, misalnya, menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa melalui pendekatan budaya. Sementara itu, pertunjukan tari, hadrah, MSQ, dan lantunan Asmaul Husna memberikan kesempatan kepada para santri untuk menampilkan kemampuan mereka.

Di sisi lain, bazar UMKM memberikan kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat. Kehadiran layanan kesehatan dan administrasi publik juga menambah manfaat kegiatan bagi warga.

Melalui festival ini, Kelurahan Pangongangan berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada perayaan Hari Santri, tetapi juga mendorong tumbuhnya kreativitas generasi muda, penguatan nilai religius, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Festival Santri Pangongangan diharapkan dapat menjadi contoh kegiatan berbasis potensi lokal yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah kelurahan dan masyarakat dalam membangun Kota Madiun. (Rie)