spot_img
Trending
Minggu, Juni 21, 2026
Beranda RAGAM BERITA Komite Dzurriyah Ajukan Dua Usulan Strategis Jelang Muktamar NU 2026

Komite Dzurriyah Ajukan Dua Usulan Strategis Jelang Muktamar NU 2026

1

MADUTV, KEDIRI – Suasana hangat menyelimuti Teras Gubuk Ploso, Kediri, pada Minggu (21/6/2026). Di tengah rindangnya pepohonan, para putra cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul dalam sebuah dialog penting. KHR. Ach. Azaim Ibrahimy dari PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo menjadi salah satu narasumber kunci yang menyampaikan pesan mendalam terkait persiapan menghadapi Muktamar NU Ke-35 Tahun 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Komite Dzurriyah secara resmi mengumumkan pengiriman surat usulan kepada Panitia MUNAS-KONBES NU dan Muktamar NU Ke-35. Langkah ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah ikhtiar serius untuk menjaga “sanad” atau rantai perjuangan para muassis (pendiri) NU, sekaligus memperkuat identitas ke-NU-an bagi generasi penerus di abad kedua organisasi ini.

Salah satu poin utama yang diajukan Komite Dzurriyah adalah integrasi prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dalam setiap pelantikan pengurus NU di seluruh tingkatan. Usulan ini diharapkan masuk ke dalam draft rekomendasi Muktamar.

Bagi kalangan pesantren dan tradisi NU, kedua benda ini bukan sekadar aksesori. Tongkat dimaknai sebagai simbol amanah kepemimpinan, keteguhan hati, dan keberlanjutan perjuangan. Sementara tasbih merepresentasikan dzikir, spiritualitas, keikhlasan, serta kedekatan seorang pemimpin dengan Allah SWT saat memikul tanggung jawab organisasi.

“Melalui simbol tersebut, setiap pengurus diharapkan senantiasa menyadari bahwa jabatan dalam Nahdlatul Ulama bukan sekadar amanah organisatoris, melainkan juga amanah moral dan spiritual yang tersambung dengan perjuangan para ulama pendahulu,” ungkap perwakilan Komite Dzurriyah.

Harapannya, ritual sederhana ini dapat menjadi pengingat konstan bagi para pemimpin NU bahwa kekuasaan adalah titipan yang harus dijaga dengan kesalehan dan keteguhan prinsip.

Usulan kedua yang tak kalah pentingnya adalah pemutaran Video Dokumenter “Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama”. Komite Dzurriyah mengusulkan agar video ini menjadi bagian wajib dalam berbagai momentum strategis organisasi, mulai dari Muktamar, Munas, konferensi, hingga kegiatan kaderisasi dan peringatan Hari Lahir NU.

Penguatan memori historis dinilai krusial bagi organisasi sebesar NU. Generasi muda Nahdliyin perlu terus diperkenalkan pada akar sejarah, pengorbanan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri. Tanpa pemahaman sejarah yang kuat, semangat perjuangan bisa pudar terkikis zaman.

Komite Dzurriyah menegaskan bahwa usulan ini tidak bermaksud menambah beban birokrasi atau memperbanyak unsur seremonial belaka. Sebaliknya, ini adalah upaya kultural untuk mempererat hubungan batin warga NU dengan sejarah ulama mereka, serta meneguhkan identitas NU di tengah dinamika masyarakat modern.

Surat usulan ini ditandatangani oleh sejumlah tokoh keturunan pendiri NU yang memiliki legitimasi moral tinggi di mata warga Nahdliyin. Selain KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, dokumen tersebut juga didukung oleh:

KH. Fahmi Amrullah (PP. Tebuireng, Jombang)

KH. Hasib Wahab (PP. Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang)

KH. Fakhruddin Aschol (PP. Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan)

Kehadiran nama-nama besar ini menunjukkan adanya konsensus lintas wilayah dan tradisi pesantren untuk merawat warisan leluhur secara bersama-sama.

Menutup pernyataannya, Komite Dzurriyah menyerahkan sepenuhnya usulan ini untuk menjadi bahan pertimbangan Panitia MUNAS-KONBES dan forum Muktamar NU Ke-35 Tahun 2026 sesuai mekanisme organisasi yang berlaku.

Semboyan “Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, Melanjutkan Perjuangan Muassis Nahdlatul Ulama” menjadi penegas bahwa NU ke depan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah anggota, tetapi juga pada kedalaman makna dan kualitas spiritualitas kepemimpinannya.

Dengan usulan ini, diharapkan Muktamar 2026 tidak hanya menghasilkan keputusan strategis, tetapi juga melahirkan ruh baru yang menyambungkan masa lalu yang gemilang dengan masa depan yang penuh tantangan. (Ef)