
MADUTV, PROBOLINGGO, Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo melakukan inspeksi mendadak (sidak) sekaligus monitoring dan evaluasi (monev) ke sejumlah gudang tembakau, Selasa (1/9/2026).
Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan penyerapan hasil panen tembakau berjalan optimal. Selain itu, langkah ini juga bertujuan menjaga transparansi harga tembakau di tingkat petani.
Dalam kegiatan tersebut, Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo didampingi Asisten II Setda, Kepala DKUPP, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Satpol PP, Kabag Perekonomian dan SDA, serta Kabag Hukum Setda Kabupaten Probolinggo.
Perwakilan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo turut mengikuti peninjauan tersebut.
Peninjauan lapangan itu menjadi respons atas sejumlah aduan petani terkait fluktuasi harga serta kekhawatiran terhadap serapan tembakau hasil panen musim ini.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo, Reno Handoyo, mengatakan pemerintah daerah bersama DPRD harus memastikan mekanisme perdagangan tembakau berjalan sehat dan tidak merugikan petani.
“Kami ingin memastikan pihak gudang menyerap hasil panen masyarakat secara adil dan transparan. Langkah ini merupakan respons cepat kami atas keluhan para petani mengenai kejelasan stok serta kestabilan harga pasaran,” tegas Reno.
Menurut Reno, harga tembakau di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp63.000 per kilogram. Harga tersebut bahkan berpotensi mencapai Rp74.000 per kilogram, bergantung pada kualitas tembakau dan kondisi pasar.
Komisi II menilai koordinasi antara pemerintah daerah, perusahaan atau gudang tembakau, serta organisasi petani perlu diperkuat.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah terjadinya distorsi pasar maupun dugaan permainan harga yang berpotensi menekan posisi tawar petani.
Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo juga menegaskan akan mendorong koordinasi secara berkelanjutan antara pemerintah, gudang tembakau, dan asosiasi petani.
Upaya itu dilakukan untuk menjaga stabilitas komoditas tembakau yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Kabupaten Probolinggo.
HKTI Minta Target Serapan Gudang Diperjelas
Sementara itu, Ketua HKTI Kabupaten Probolinggo, Agus Salehuddin, mengatakan pihaknya ingin memastikan target penyerapan tembakau di setiap gudang tahun ini jelas. Menurutnya, kepastian target pembelian penting agar petani dan pemerintah dapat mengukur seberapa besar tembakau hasil panen yang mampu diserap oleh gudang-gudang yang beroperasi di Kabupaten Probolinggo.
“Serapannya harus jelas. Tahun ini target pembelian masing-masing gudang berapa, sehingga kami bisa mengukur serapan tembakau di gudang yang ada di Kabupaten Probolinggo,” ujar Agus.
Agus menyebut sejumlah gudang diperkirakan melakukan penyerapan dalam jumlah cukup besar. Salah satunya gudang milik Jarum yang disebut mampu menyerap sekitar 4.000 hingga 5.000 ton tembakau petani.
Sementara Gudang Noroyono diperkirakan menyerap sekitar 800 ton.
Namun, Agus menyayangkan salah satu perusahaan besar, yakni Gudang Garam, belum melakukan pembelian tembakau petani di Probolinggo.
menurutnya, stok tembakau masih cukup banyak. Di sisi lain, perusahaan tersebut disebut masih melakukan pembelian tembakau dari daerah lain di luar Probolinggo, seperti Madura dan Bojonegoro.
“Kami berharap pemerintah daerah bersama Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo bisa meninjau kembali regulasinya, khususnya terkait gudang yang belum melakukan penyerapan tembakau petani.
Agus menambahkan, harga tembakau di tingkat petani saat ini masih relatif cukup bagus meski berbeda berdasarkan posisi daun dan kualitasnya.
Untuk daun bawah, harga berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Sedangkan daun tengah atas bisa mencapai Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
“Kondisi harga saat ini masih relatif cukup bagus. Harapannya harga ini bisa bertahan, sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil panennya,” pungkas Agus. (Gus)




