Malang – Atmi, warga RT 5 RW 6 Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, tak kuasa menahan tangis, saat mengetahui rumahnya hanyut terbawa aliran sungai Brantas. Atmi merupakan satu di antara enam keluarga yang rumahnya hilang akibat bencana tanah longsor yang terjadi daerah Muharto, Kota Malang, Selasa (5/4/2022).
Saat kejadian, perempuan 57 tahun sedang tidak berada di rumah. Dia sedang sibuk bekerja berjualan barang bekas. Sedangkan di rumah, hanya ada suaminya, Karyadi (63), yang kondisinya terbaring lemah di kasur karena menderita penyakit stroke. Atmi pun baru mengetahui, kalau rumahnya sudah hilang, setelah pulang, dari menjajakan pakaian bekasnya
“Rumah saya sudah hilang. Bapak (suaminya) saat itu dievakuasi oleh warga. Jadi saya pulang, rumah saya sudah tidak ada,” ucapnya kepada Surya, Rabu (6/4/2022).
Sebelum kejadian, Atmi bersama warga yang lain sudah merasakan, bahwa akan terjadi bencana tanah longsor. Hal tersebut ditandai, dengan mulai retaknya sejumlah tembok rumah milik warga. Ibu dua anak itu juga sempat dilarang, oleh suaminya untuk memperbaiki tembok rumahnya yang retak tersebut.
“Sebenarnya saya mau beli semen untuk nembel yang retak itu. Tapi gak boleh sama bapak,” ungkapnya.
Atmi menjadi salah satu warga yang telah dua kali menjadi korban tanah longsor di Muharto Kota Malang. Kejadian pertama terjadi pada Desember 2021 lalu, di mana rumah yang menjadi tempat tinggalnya juga hilang terbawa arus sungai Brantas. Sedangkan, pada kejadian yang kedua ini, rumah Atmi sebagian juga hilang terbawa arus sungai Brantas. Rumah tersebut kini posisinya menggantung, dan rawan roboh, karena tanah dibawahnya sudah terkikis oleh air.
“Kalau dulu itu rumah saya sendiri. Kalau yang sekarang ini saya sewa. Karena sudah tidak punya rumah,” ujarnya.
Kini, Atmi mengungsi untuk sementara waktu ke rumah tetangganya, Subandi. Atmi juga bingung, mau mengungsi di mana lagi, karena sudah tidak memiliki uang untuk kebutuhan sehari-hari. Dia berharap, ke depan ada bantuan berupa rumah yang diberikan oleh pemerintah.
“Kejadian yang dulu itu, saya diberi bantuan beras dan uang senilai Rp750 ribu dari pemerintah. Kalau sekarang masih belum. Semoga saya dibantu rumah untuk tempat tinggal,” tandasnya. (red)







