Kediri – Sebanyak 60 massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan aksi blokade di depan Balai Kota Kediri, Jalan Basuki Rahmat, Rabu sore. Aksi tersebut diambil setelah Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, tidak menemui massa untuk berdialog dan menerima aspirasi mereka.
Dalam orasinya, massa menuntut agar Pemerintah Kota Kediri memperhatikan nasib 14 kepala keluarga yang terancam digusur akibat proyek perluasan Rumah Sakit Umum (RSU) Daha Husada. Tidak merasa puas hanya memblokade Jalan Basuki Rahmat, massa juga berupaya memblokir Jalan Daha. Namun, aksi mereka dihadang oleh petugas kepolisian.
Konflik sempat terjadi antara massa dan petugas kepolisian, ketika massa tetap bertekad untuk memblokade perempatan Jalan Doho. Setelah dilakukan negosiasi, massa dijanjikan untuk bertemu dengan pejabat Pemerintah Kota Kediri sebelum tanggal 5 Juni. Mereka menuntut agar tidak ada penggusuran rumah warga di Perumahan Persada Sayang pada tanggal 5 Juni, mengingat warga telah mengajukan gugatan ke pengadilan.
Sebelumnya, puluhan massa juga melakukan orasi di depan pintu gerbang Balai Kota Kediri. Massa pendemo sempat ditemui oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP). Namun, karena tidak bisa memberikan kepastian atas tuntutan mereka, massa kemudian bergerak untuk memblokade jalan.







