Penetapan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024

38

Jakarta – Keputusan Bersama (SKB) mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 telah resmi ditetapkan dalam sebuah rapat koordinasi tingkat menteri yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, pada hari Selasa, 12 September 2023, di Kantor Kemenko PMK. Rapat tersebut dihadiri oleh Menteri PAN RB Abdullah Azwar Annas, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, dan Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki.

Dalam rapat koordinasi yang berlangsung, diputuskan bahwa jumlah Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 akan mencapai total 27 hari, yang terdiri dari 17 Hari Libur Nasional dan 10 Cuti Bersama. Keputusan ini penting karena akan memengaruhi aktivitas masyarakat, sektor ekonomi, dan sektor swasta, serta menjadi acuan bagi kementerian dan lembaga pemerintahan dalam merencanakan program-program kerja mereka sepanjang tahun 2024.

Penandatanganan SKB mengenai Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2024 dilakukan oleh Menteri PAN RB Abdullah Azwar Annas, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, dan Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki, dengan kesaksian langsung dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (MENKO PMK).

MENKO PMK menjelaskan bahwa penetapan jumlah Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 251 Tahun 1967 tentang Hari-Hari Libur. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat, sektor ekonomi, dan sektor swasta dapat merencanakan kegiatan mereka dengan lebih baik, serta memberikan pedoman kepada kementerian dan lembaga pemerintahan dalam menyusun program-program kerja mereka sepanjang tahun 2024.

Selain itu, dalam rapat koordinasi tersebut juga dibahas pengajuan perubahan nomenklatur Hari Libur Nasional yang diusulkan oleh Kementerian Agama, berdasarkan usulan umat Kristen dan Katolik. Usulan tersebut mencakup perubahan dari “Wafat Isa Almasih” menjadi “Wafat Yesus Kristus,” “Kenaikan Isa Almasih” menjadi “Kenaikan Yesus Kristus,” dan “Hari Raya Natal” menjadi “Kelahiran Yesus Kristus.”

Keputusan ini akan memberikan penghormatan yang lebih mendalam terhadap keyakinan umat Kristen dan Katolik di Indonesia. Dengan demikian, semangat persatuan dan toleransi antarumat beragama akan semakin diperkuat.

Semua keputusan ini diharapkan akan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia, memungkinkan mereka untuk merencanakan kegiatan mereka dengan lebih baik, serta memelihara nilai-nilai keagamaan dan budaya yang kaya di tanah air kita.