spot_img
Minggu, April 19, 2026
Beranda NASIONAL KKP Panggil Pertamina Bahas Penanganan Tumpahan Minyak di Aceh

KKP Panggil Pertamina Bahas Penanganan Tumpahan Minyak di Aceh

248

Jakarta – Kementerian Kelautan dan Pertanian telah memanggil PT Pertamina untuk membicarakan penanganan yang diperlukan dalam penyelesaian setelah ada indikasi tumpahan minyak di perairan Kuala Idi, Kabupaten Aceh Timur.

Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Pamuji Lestari, dalam siaran pers, Kamis, meminta agar pihak terkait dapat menyelesaikan persoalan tumpahan minyak. Penyelesaian ini sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Tari mengungkapkan kekhawatiran KKP apabila kejadian tersebut menimbulkan dampak kerusakan terhadap ekosistem dan sumber daya laut. Mempengaruhi aktivitas perikanan di wilayah perairan sekitar.

Ia mengemukakan, jika ada tumpahan minyak di perairan. Pihaknya harus memantau lingkungan pesisir yang dapat mengganggu sumber daya alam pesisir dan laut seperti ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun, aktivitas perikanan tangkap dan budidaya yang ada di wilayah pencemaran. Sehingga upaya penanganan tanggap darurat dan tindak lanjut pascakejadian dapat segera terlaksana secara baik.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menaruh perhatian serius terhadap kesehatan laut. Di antaranya kejadian tumpahan minyak di perairan mengingat dampak kejadian tersebut sangat masyarakat nelayan rasakan. Begitu pula masyarakat pesisir. Untuk itu, Tari juga meminta agar rencana aksi segera dilakukan dengan langkah penanganan cepat.

Sementara itu, pihak Pertamina melalui Pertamina Hulu Energi Regional 1 menerangkan kronologis terjadinya tumpahan minyak tersebut karena putusnya pipa di dasar laut. Hingga menyebabkan munculnya gelembung gas (bubble) beserta keluarnya minyak mentah.

โ€œKami memperoleh informasi kejadian tersebut tiga bulan lalu. Lokasinya ada di wilayah Regional 1 Pertamina Hulu Energi (PHE), bagian dari Blue Sky yang tutup sejak tahun 2017. Lapangan Offshore Langsa ini berada di Selat Malaka dengan kedalaman 100 meter. Sebelumnya terkelola oleh Blue Sky menggunakan tiga sumur on produksi,โ€ terang GM PHE Regional 1 Ani Surakhman.

Lebih lanjut Ani menguraikan bahwa pada tahun 2017 terjadi force majeure cuaca buruk yang menyebabkan semua sumur mati dan ada demobilisasi ke Batam.

โ€œKami telah mengirim kapal dan menemukan bubble dengan sebaran minyak tipis (oil sheen). Melalui investigasi, tim menemukan bubble di sekitar sumur H-4 terjadi oil sheen. Namun demikian, di sumur lainnya tidak ada hal serupa sehingga kemudian mendeklarasikan ke SKK Migas ini sebagai keadaan darurat. Modeling tumpahan minyak, pemantauan melalui helikopter dan 13 kapal juga telah terlaksana untuk melihat sebarannya,โ€ jelasnya.

Meski pencemaran oil sheen di perairan Idi telah tertangani oleh Pertamina dengan perkiraan selesai di akhir Oktober mendatang. Tari tetap meminta Pertamina untuk fokus dalam menangani dan menyelesaikan tumpahan minyak yang ada di perairan Idi. Sehingga peristiwa yang sama tidak terjadi kembali.

Sementara, Kepala Pusat Riset Kelautan Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) I Nyoman Radiarta menyebutkan pemantauan Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) BRSDMKP. Pemantauan menggunakan citra radar Sentinel-1 periode 3 Agustus hingga 20 September 2021 menunjukkan tumpahan minyak seluas 597,06 kilometer persegi. Dengan rata-rata tumpahan per hari seluas 66,34 kilometer persegi.

Nyoman juga menyampaikan perlunya kolaborasi kajian pemodelan antara PT Pertamina dengan hasil pemodelan Tim BROL sehingga mendapatkan data yang lebih komprehensif.

Selain itu, kolaborasi pemodelan, kajian dampak tumpahan minyak terhadap masyarakat dan nelayan serta ekosistem di sekitar lokasi kejadian juga sangat penting untuk dilakukan.

Pihak Pertamina pun Nyoman harap agar tidak terburu-buru menyimpulkan sudah tidak tertemukan ceceran minyak yang berdampak pada ekosistem di pesisir. (Antara/mrr)