Tulungagung – Sejumlah petani di wilayah Kacamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, mengeluhkan serangan hama tikus pada tanaman jagung mereka sehingga menyebabkan hasil panen tidak optimal. “Sudah banyak tanaman jagung petani di sini yang rusak akibat serangan hama tikus,” tutur Supangat, petani di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Rabu.

Upaya pembasmian hama tikus sebenarnya telah petani lakukan. Mulai dengan cara diburu hingga ke sarangnya yang ada di bawah permukaan tanah, penembakan menggunakan senapan, hingga dengan menggunakan racun. Namun menurut Supangat, serangan hama tikus seperti malah menjadi. Kendati masih ada sebagian buah jagung yang selamat, kerusakan tanaman berikut buah jagungnya taksiran mencapai 50 persen lebih.

Akibat serangan tikus ini, banyak bonggol jagung yang rusak. Tikus hanya memakan bagian atas bonggol jagung, sedang bagian bawahnya tikus biarkan begitu saja.

“Rata-rata tinggal setengahnya saja. Bagian atas habis dimakan, bagian bawahnya tidak dimakan,” ucap Supangat, sambil menunjuk buah jagung yang rusak. Serangan tikus sudah terjadi sejak muncul jagung muda atau janten.

Jika biasanya lahan 200 ru (1 ru = 14 meter persegi) mampu memperoleh 1,5 ton jagung, kini diperkirakan hanya sekitar 3 kuintal. “Baru tahun ini ada serangan tikus. Tahun lalu tidak seperti ini,” kata Supangat.

Selain menyerang pertanian jagung di Desa Tanen, hama tikus juga merebak di beberapa desa di sekitarnya. Seperti yang terjadi pada Sakur, petani jagung di Desa Banjarejo Kecamatan Rejotangan. “Tapi kami tidak berani meracun hama tikus di sawah. Takut nanti bukannya bisa dibasmi tuntas tetapi malah (serangan) semakin menjadi.

Sakur mengaku lebih suka melakukan tindakan pencegahan dengan cara menyemprotkan pewangi pakaian ke sekitar lahan pertanian mereka demi mengusir hama tikus.

Kata dia, aroma pewangi pakaian yang kuat, membuat tikus menjauh. Hidung tikus memang peka terhadap bau menyengat, sehingga sensornya terganggu.

Sayangnya aroma pewangi pakaian ini tak bisa bertahan lama. “Setiap hari saya bawa ke sawah. Kalau sempat semprot,” ujarnya. (*/Antara/dhs)