
KANIGORO, BLITAR – Kepolisian Resor (Polres) Blitar baru-baru ini berhasil menggelar simulasi penanganan teror pemilu yang melibatkan Polisi Republik Indonesia (Polri) dan Brimob. Simulasi ini bertujuan untuk memastikan kesiapan aparat keamanan dalam menghadapi potensi kerusuhan antara pendukung salah satu calon presiden (capres) dan pemilu mendatang.
Kapolda Blitar, AKBP Anhar Arlia Rangkuti, menjelaskan bahwa simulasi ini merupakan upaya serius dalam mempersiapkan aparat keamanan menghadapi berbagai ancaman teror selama periode pemilu. Terlibat dalam simulasi ini adalah delapan Polres gabungan, termasuk Polres Kediri, Jombang, Nganjuk, serta Trenggalek.
“Simulasi ini senjata penting untuk melatih personel dalam menghadapi situasi darurat dan memastikan bahwa mereka siap untuk bertindak tegas dan profesional dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata AKBP Anhar Arlia Rangkuti.
Dalam simulasi ini, para peserta memerankan berbagai skenario ancaman teror, termasuk kerusuhan antara pendukung capres dengan aparat keamanan, seperti yang mungkin terjadi selama pemilu. Polisi dan Brimob bekerja sama untuk meredam situasi, menjaga keamanan, dan mencegah massa yang ingin masuk ke kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).
Selain melibatkan aparat keamanan, simulasi ini juga melibatkan sejumlah anggota KPUD. Hal ini untuk memastikan kerja sama yang baik antara aparat keamanan dan pihak penyelenggara pemilu dalam menghadapi situasi darurat.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antara Polri, TNI, dan pihak-pihak terkait lainnya dalam menjaga stabilitas selama pemilu mendatang. Kesiapan aparat keamanan dan kesigapan dalam merespons ancaman teror menjadi prioritas utama demi terciptanya pemilu yang aman, damai, dan demokratis.
“Kami berkomitmen untuk melindungi keamanan dan ketertiban masyarakat selama pemilu. Simulasi ini adalah bukti nyata bahwa kami siap dan bersatu dalam menjalankan tugas tersebut,” tambah AKBP Anhar Arlia Rangkuti.
Dengan adanya simulasi ini, diharapkan aparat keamanan akan semakin terlatih dan siap menghadapi segala tantangan yang mungkin timbul selama periode pemilu. Masyarakat pun dapat merasa lebih tenang, mengetahui bahwa aparat keamanan berada dalam posisi yang optimal untuk melindungi mereka selama proses pemilu berlangsung. Semangat persatuan dan kesatuan dalam menjaga keamanan dan demokrasi sangat diperlukan untuk memastikan pemilu yang sukses dan berjalan dengan lancar.







