
Banyuwangi – Aliyan, sebuah desa indah yang terletak di Banyuwangi, terkenal dengan tradisi keboan yang menggambarkan semangat kebersamaan dan kearifan lokal yang memikat. Setiap pagi, masyarakat desa bersama para petani yang kerasukan energi gaib merayakan selamatan di empat penjuru desa. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini menjadi sarana penting dalam mempererat tali silaturahmi dan menyatukan seluruh warga dalam membangun dan menjaga desa dengan bersama-sama.
Ritual keboan dimulai dengan penuh semangat, saat para petani dan warga yang kerasukan roh keboan siap menjalani serangkaian kegiatan. Mereka berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin dengan langkah gemulai. Seperti kerbau yang mengikuti siklus cocok tanam, mereka membajak sawah, mengairi tanaman, hingga menabur benih padi dengan penuh keceriaan.
“Tradisi keboan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kami sebagai masyarakat Aliyan. Dengan menjaga dan melestarikannya, kami merasa semakin kuat sebagai satu kesatuan yang berpegang teguh pada adat dan budaya,” ungkap Anton Sujarwo, Kepala Desa Aliyan, dengan bangga.
Dalam tradisi keboan ini, masyarakat Aliyan memiliki kebanggaan tersendiri. Dwi Yanto, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, menjelaskan, “Banyak masyarakat dari luar Banyuwangi yang iri dengan seni dan budaya yang kami miliki. Di sini, tarian-tarian selalu dilakukan secara live, tanpa rekaman. Keaslian inilah yang semakin memperkaya dan membanggakan seni budaya kami.”
Lebih dari sekadar ritual, keboan Aliyan telah menjadi perwujudan dari kesungguhan warga desa dalam menjaga tradisi adat. Setiap langkah mereka menjadi penyemangat bagi generasi mendatang untuk terus menghargai dan melestarikan kearifan lokal yang kaya ini.
Tradisi keboan bukan hanya sekadar ritual untuk dirayakan, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersatu dan saling mendukung dalam memajukan desa mereka. Dengan semangat kegotong-royongan, mereka berkomitmen untuk menjaga keindahan alam dan lingkungan sekitar, serta mengembangkan potensi desa Aliyan.
Sebagai warisan budaya yang hidup, keboan Aliyan menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk tetap menjaga kearifan lokal dan melestarikan tradisi adat di tengah arus modernisasi. Semangat optimisme terpancar dari setiap gerak dan langkah para “kerbau” yang menari dengan kegembiraan, memberikan harapan bahwa tradisi luhur ini akan terus berkembang dan menerangi masa depan desa Aliyan.







