spot_img
Minggu, Mei 10, 2026
Beranda NASIONAL Toraja International Festival, Bangkitnya Pariwisata di Tengah Pandemi

Toraja International Festival, Bangkitnya Pariwisata di Tengah Pandemi

304

Makassar – Toraja International Festival (TIF) 2021 yang menyuguhkan kesenian tradisional Toraja dan Sulawesi Selatan telah sukses terselenggara di Rante Buntu Pempon, Rantepao Toraja Utara, Sulawesi Selatan, pada Minggu (5/9) malam. Meski sempat tertunda hingga 4 kali karena tingginya kasus Covid-19, dengan adanya kebijakan Pembatasan Pergerakan Kegiatan Masyarakat (PPKM), namun tidak menyurutkan semangat para penggagas dan Pemerintah Kabupaten Toraja Utara untuk tetap melaksanakan even tahunan tersebut.

Bukan itu saja, pergelaran TIF kali ke-9 ini berbeda dari biasanya. Ajang kebanggaan masyarakat Sulsel ini harus terselenggara secara hybrid, yakni daring dan luring. Meskipun demikian tidak mengurangi kualitas konsep maupun acara TIF 2021. Direktur Event Daerah pada Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Wisata Kemenparekraft Reza Pahlevi mengatakan Toraja Internasional Festival telah menjadi sebuah ajang tahunan di Kabupaten Toraja Utara (Torut) atas gagasan pemkab setempat.

“Tentu ini menjadi upaya-upaya kita dalam membantu pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak saat ini, sekaligus bukti pariwisata mulai bangkit,” katanya. Sejak penyelenggaraan di tahun ke-3, yaitu tahun 2015, TIF telah berhasil meningkatkan kunjungan pariwisata di Kabupaten Torut sebanyak 300 persen.

Para pelancong dari mancanegara dan nusantara umumnya menjadwalkan kunjungan mereka ke Toraja. Hal ini untuk berkenaan dengan waktu pelaksanaan TIF yang setiap tahunnya jatuh pada pertengahan bulan Juli. “Yang terpenting di tengah pandemi ini harus ada inovasi dengan melakukan adaptasi kebiasaan baru. Harapannya protokol kesehatan jadi kunci utama.Dengan penonton yang lebih terbatas, karena protokol kesehatan disiplin dan ketat,” katanya.

Oleh sebab itu, sejak beberapa tahun yang lalu, Kemenparekraf mengangkat TIF menjadi salah satu Festival Nasional Tahunan di seluruh nusantara yang sekarang bernama Kharisma Event Nasional. Dengan meningkatnya kunjungan para wisatawan mancanegara maupun nusantara ke Kabupaten Torut, kehidupan ekonomi masyarakat di wilayah ini pun turut meningkat.

Sebagai contoh, pada waktu TIF yang berlangsung di Tongkonan Kete Kesu, setiap hari warung kopi dan makanan sederhana yang berada di lingkungan Kete Kesu setiap harinya mendapat omzet sebesar Rp7-10 juta. Demikian pula halnya dengan pemilik kios cendera mata dan pengelola lapangan parkir di sekitar Kete Kesu.

Pengunjung TIF sebelum masa pandemi di Kete Kesu pun mencapai 3,000-5,000 orang per hari. Saat ini, Kete Kesu sudah merupakan destinasi wajib yang selalu dikunjungi oleh para pelancong dalam dan luar negeri. Lokasi TIF sejak tahun 2013-2019 ini bahkan mendapatkan penghargaan sebagai
Objek Wisata Terbaik di Toraja.

Pada prinsipnya, ujar Reza, Kemenparekraf mendukung ajang-ajang yang dilaksanakan secara kolaborasi. Maka dari itu penting baginya mempromosikan pariwisata daerah sebagai media untuk pemberdayaan pelaku seni. Bahkan komunitas ekonomi kreatif yang ada di daerah termasuk berdampak positif bagi para pelaku seni.

“Apalagi ini konsepnya adalah mengangkat nilai-nilai lokal, jadi harus kita dukung semua sebagai even kebanggaan Toraja Utara. Semoga semakin hari semakin baik penyelenggaraannya,” katanya. (antara/nsw/ed:*)