Connect with us

Jawa Timur

Tak Masuk Data Kompensasi TPA Tahun Ini, Ratusan Warga Pojok “Dijanjikan” Tossa

Diterbitkan

pada

Kediri – Paska Puluhan warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, mendatangi kantor Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Jumat (17/9/2021) lalu yang menanyakan uang kompensasi. Uang tersebut sebagai ganti dampak lingkungan akan keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di lingkungan mereka. Akhirnya mereka dijanjikan Tahun 2022 bisa dapat Kompensasi dan juga pemberian Kendaraan Tossa di tahun 2022 dalam bentuk Program dengan meminta masyarakat membentuk Pokmas.

Supriyo Perwakilan warga yang juga sempat ikut datang ke Kantor DLHKP. Melalui ponselnya ia mengakui bahwasannya warga yang tahun ini tidak mendapatkan kompensasi akan mendapatkan pada Tahun 2022 serta akan mendapatkan Kendaraan Roda Tiga (Tossa)

“Beberapa waktu lalu paska adanya rundingan di Kantor DLHKP pihak Dinas Bersama perwakilan warga. Terjadi kesepakatan bila pemerintah Kota melalui DLHKP akan memberikan Kompensasi itu di Tahun 2022. Mereka mendapat permintaan membuat program dengan membentuk Pokmas. Selain itu, mereka akan mendapat Tossa,” ungkap Priyo panggilan akrab petinggi Seroja.

Sementara itu Kepala DLHKP Anang Kurniawan saat mengonfirmasi melalui Kontak WA tidak menjawab atas mekanisme tindak lanjut permintaan kompensasi warga.”Rabu (5/10/2021)

Sebelumnya dalam aksi dan dialog di kantor DLHKP para warga mengaku bila tahun-tahun sebelumnya, mereka mendapatkan kompensasi itu. Adapun besaranya bervariasi, yakni Rp 450 ribu- Rp 1 juta, tiap tahunya. Dari sinilah, sekitar 50 warga yang mewakili 300 KK yang tidak mendapatkan kompensasi menuntut, agar bisa mendapatkan kembali kompensasi itu. Mereka bersikukuh, berada di lingkungan yang terdampak.

Pantauan di lokasi menyebutkan, puluhan warga mendapat penyambutan kepala DLHKP, Anang Kurniawan, Kasi Datun Kejari Kota Kediri, Suryaman SH, Kapolsek Mojoroto, Camat Mojoroto.Saat pertemuan di kantor Aula DLHKP Kota Kediri. Warga, mempertanyakan kompensasi dampak lingkungan keberadaan TPA.

Kepala DLHKP Kota Kediri, Anang Kurniawan, menjelaskan, pemberian kompensasi ke warga terdampak TPA, berdasarkan hasil kajian tim UGM. Kajian itu berbasis Rukun Tetangga (RT) dan sudah berkali-kali disosialisasikan.

“ Kajiannya sudah benar dan rekomendasinya jelas. Maka, hasil kajian itulah yang digunakan untuk mengucurkan dana kompensasi,”ujar Anang, saat menemui perwakilan warga.

Sontak, pernyataan Anang mendapat reaksi sejumlah warga. Mereka, menunjukkan bukti-bukti bahwa dalam satu RT, ada yang menerima uang kompensasi dan ada yang tidak. Misalnya di RT 15 dan RT 21. Sedangkan RT 7, RT 8, dan RT 11 misalnya, sama sekali tidak dapat kompensasi.

Begitu pula di RT 3, yang masuk ring I dan secara otomatis seharusnya semua warga menerima. Ternyata, ada beberapa warga yang tidak menerima kompensasi.

“Tidak ada sosialisasi.Belum pernah…,” jawab puluhan warga secara serentak.

Dari pertemuan tersebut, memang sempat memanas menjelang Salat Jum’at, hingga belum menuai titik temu.Karena, keinginan dan kemauan warga berbeda-beda. Selanjutnya, belum ada kepastian bagaimana penyelesaian masalah tuntutan warga ini.

Supriyo, Koordinator warga menilai, kajian dari UGM terkait warga terdampak TPA itu ternilai tidak melibatkan warga. Karena yang berfungsi sebagai kajian adalah ketua RT. Sedangkan ketua RT tidak pernah mengajak bicara warganya. “Saat kajian, warga tidak diajak bicara” tegasnya.

Sementara, Anang Kurniawan kembali menegaskan, untuk memberikan kompensasi ke warga tidak mungkin. Hal tersebut karena persoalan mekanisme penganggaran dan harus ada uangnya.

“Yang tidak menerima, bis terakomodir dengan program-program pemerintah. Tetapi, landasanya harus berdasarkan program dan atas usulan warga” tukasnya. (me)

Continue Reading
Advertisement

Jawa Timur

Malang Lahirkan 2000 Petani Milenial

Diterbitkan

pada

Jatim – Kabupaten Malang menjadi salah satu dari 4 kabupaten di Jawa Timur yang menerima program pemerintah YESS (Youth Enterpreneurship and Employment Support Services). Targetnya hadir 2000 petani milenial dari Kota Apel ini.

Program YESS menjadi bagian upaya pemerintah melalui Kementrian Pertanian bekerjasama dengan IFAD (International Fund for Agricultural Development). Tim tersebut mempunyai cita-cita untuk menciptakan wirausahawan muda yang milennial tangguh, mandiri dan berkualitas. Awal Oktober 2021 ini, pekik semangat dan kiprah petani milenial mulai terasa di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Program YESS di kabupaten Malang ini berkolaborasi dengan Dinas Tanaman Pangan hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) beserta dinas terkait untuk dapat menyukseskan harapan mulia ini.

Komando oleh Dr Budiar M.Si selaku kepala dinas, maka sudah siap beberapa trainer untuk melatih generasi muda ini. Trainer trainer ini berasal dari lembaga yang berkompeten. Mereke memberikan materi materi.

Adapun jumlah petani muda yang terlatih pada tahun 2021 ini khusus di Kabupaten Malang hampir berjumlah 2000 orang. Terbagi dalam beberapa tahap kegiatan program. Program ini mempunyai jadwal yang tersusun dengan baik. Tiap jadwal mempunyai modul materi yang tersampaikan agar generasi muda mempunyai wawasan dan pengetahuan tentang wirausahawan muda. Nantinya sebagai job creator dan job seeker baik untuk pribadi ataupun untuk orang lain.

15 BDSP terdiri dari BPP (Balai Penyuluhan Pertanian), P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya), BLK (Balai Latihan Kerja), PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu). Kemudian lembaga pelatihan lainnya yang dinas atau instansi miliki terkait lainnya.

PLUT kabupaten Malang sendiri yang dipimpin Fakhrudin Ali Ahmad terpilih menjadi lokasi. Hal tersebut karena PLUT sendiri merupakan sentra UMKM yang mempunyai 5 unit kegiatan yang bersentuhan langsung dengan UMKM yang ada di kabupaten Malang. (jal)

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: