Petani Tembakau Tulungagung Raup Untung dari Tanah Seluas 1 Hektar

150

Tulungagung, Jawa Timur – Keindahan Kabupaten Tulungagung di Provinsi Jawa Timur tidak hanya terletak pada pemandangan alamnya yang menawan, tetapi juga pada kekayaan hasil bumi yang melimpah. Salah satu komoditas unggulan yang menjadi andalan petani di daerah ini adalah tembakau. Di Desa Pojok, Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung, kami berkesempatan bertemu dengan Suparti (52 tahun) dan putranya, Nurhadi (33 tahun), yang merupakan dua sosok petani tembakau yang telah menjalani perjuangan bertahun-tahun dalam menghasilkan tembakau berkualitas tinggi.

Suparti dan Nurhadi adalah contoh nyata dari para petani yang tekun dan penuh semangat. Mereka telah menjadi bagian dari industri tembakau sejak tahun 1991. Dalam setahun yang lalu, mereka meraih hasil yang membanggakan, berhasil memanen 2 kuintal tembakau dari lahan yang tidak mencapai satu hektar. Bahkan, mereka masih memiliki lahan yang belum di panen, menandakan potensi besar yang masih bisa dimaksimalkan di masa mendatang.

“Kami sangat bersyukur dengan hasil panen kami tahun ini. Meskipun lahan kami tidak besar, perawatan yang tepat dan cinta terhadap tanaman tembakau membuat hasilnya sangat memuaskan,” kata Suparti dengan senyum bahagia di wajahnya.

Menurut Suparti, penanaman tembakau relatif mudah. Hanya dalam waktu tiga bulan perawatan, tanaman sudah siap untuk dipanen. Mereka melakukan penyiraman setiap hari dan memberi pupuk sebanyak lima kali selama tiga bulan. Proses panen pun tidaklah rumit. Tembakau dipetik dari sawah, lalu diikat dan disimpan atau dibungkus selama empat malam. Setelah itu, tembakau diolah dengan cara dicincang atau dirajang, lalu dijemur selama dua hari hingga tembakau berubah menjadi kecoklatan. Hasil akhirnya adalah tembakau siap dipasarkan dengan kualitas yang prima.

Nurhadi, putra dari Suparti, menjelaskan bahwa pemasaran tembakau mereka juga berjalan lancar. Mereka tidak perlu bersusah payah mencari pembeli atau pengumpul hasil panen. Para pembeli dan pengumpul tembakau datang dengan sukarela ke rumah mereka untuk membeli hasil panen tembakau berkualitas yang telah disiapkan.

“Dalam menjual tembakau, kami tidak perlu repot. Pembeli dan pengumpul datang langsung ke rumah kami. Harga tembakau yang kami tawarkan adalah 100 ribu rupiah per kilogramnya, dan ini adalah harga yang adil untuk kedua belah pihak,” ungkap Nurhadi.

Kisah Suparti dan Nurhadi adalah contoh nyata keberhasilan petani tembakau di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Mereka telah membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan perawatan yang baik, hasil panen tembakau yang berkualitas dapat dicapai dengan sukses. Selain itu, kerja sama yang baik antara petani dan pembeli juga merupakan kunci kesuksesan dalam industri tembakau di daerah ini. Semoga kisah inspiratif ini dapat memberikan motivasi dan semangat bagi para petani tembakau lainnya di seluruh Indonesia.