spot_img
Kamis, April 30, 2026
Beranda Medan Pesona Keestetikan Masjid Raya Medan

Pesona Keestetikan Masjid Raya Medan

342

Medan – Masjid Al-Mashun atau Masjid Raya Medan merupakan salah satu masjid bersejarah di Indonesia yang terletak di Kota Medan. Lokasi masjid ini berada di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Masjid ini dibangun pada tahun 1906 pada masa Kesultanan Deli era kepemimpinan Sultan Maโ€™mun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Penggunaan pertama kali Masjid Raya Al-Mashun untuk aktivitas keagamaan terjadi pada Jumโ€™at bulan Shaโ€™ban 1327 bertepatan 10 September 1909.

Sama seperti masjid-masjid bersejarah di Indonesia, Masjid Raya Al-Mashun memiliki sejarah dan keunikan arsitektur yang menarik. Salah satu keunikan yang dapat dilihat ialah akulturasi arsitektur khas Melayu dengan budaya asing.

Dikutip dari penelitian Achy Askwana berjudul “Analisis Karakteristik Ornamen di Masjid Raya Al-Mashun Medan” (2015) dari Universitas Sumatera Utara (USU), disebutkan bahwa kala itu perdagangan tembakau di Deli semakin pesat.

Sebelum pembangunan Masjid Raya Al-Mashun, dibangun dua bangunan penting yaitu Istana Maimoen pada 1888-1891 yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan Gedung Kerapatan Tinggi pada 1906 sebagai Mahkamah Peradilan.

Pembangunan Masjid Raya Al-Mashun Medan menghabiskan biaya sebesar 1 juta gulden yang ditanggung oleh Kesultanan Deli.

Namun, dikutip dari Tengku Luckman Sinar dalam bangun dan runtuhnya kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2006), dana pembangunan masjid ini juga dibantu seorang saudagar etnis Tionghoa bernama Tjong A Fie.

Arsitektur Masjid Raya Al-Mashun dirancang oleh ahli asal Belanda, Theodoor Van Erp. Selanjutnya, proses pengerjaannya dilimpahkan kepada J.A. Tingdeman. Theodoor Van Erp dikenal pula sebagai perancang istana Maimun dan ahli yang turut membantu pemugaran Candi Borobudur di Jawa Tengah pada 1907-1911.

Ciri khas bangunan Masjid Raya Al-Mashun memiliki gaya arsitektur yang memadukan corak Melayu, Arab, India, dan Spanyol. Perpaduan ini menghasilkan nilai estetika dan etika yang tinggi.

Keunikan lainnya dapat dilihat dari bentuk masjid yang berbentuk segi delapan dengan pilar utamanya yang sudah menggunakan teknologi beton.

Selain itu, gaya klasik terdapat pada jendelanya yang menggunakan kaca patri dan kubahnya yang menggunakan bentuk kubah bergaya Moghul (India). Sampai saat ini, Masjid Raya Al-Mashun masih terjaga keaslian bangunannya sehingga ditetapkan sebagai warisan cagar budaya.

Masjid Raya Al-Mashun juga masih menjadi pusat kegiatan agama sekaligus ikon pariwisata sejarah dan agama di Kota Medan.(red)