Kediri – Ada buntut pembubaran pagelaran simulasi seni jaranan di Kelurahan Ketami Minggu (3/10/2021). Sejumlah aliansi seniman jaranan melakukan aksi damai di Halaman Kecamatan Pesantren. Dalam aksinya, seniman jaranan tersebut menggelar atraksi makan paku. Sebagai simbol jika saat ini para seniman tidak mampu membeli nasi, karena PPKM di masa pandemi.
Puluhan seniman jaranan yang tergabung dalam aliansi seniman Kediri. Menggelar aksi damai di kantor halaman Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Aksi ini sebagai bentuk protes. Protes ini atas pembubaran pentas kesenian jaranan di kelurahan Ketami hari Minggu kemarin oleh tim satgas Covid 19.
Dalam aksinya, seniman membawa berbagai poster tuntutan, seperti copot Camat Pesantren, copot lurah Ketami karena massa menilai jika keduanya, yang paling bertanggung jawab atas pembubaran pentas kesenian jaranan di Ketami hari Minggu kemarin.
Bahkan seniman juga menggelar atraksi makan paku, sebagai simbol jika saat ini para seniman hanya bisa makan paku, tidak mampu membeli nasi, karena tidak ada pemasukan sama sekali, masa pandemi dengan pembelakuan pembatasan kegiatan masyarkat (PPKM).
Para seniman kemudian di ajak dialog dengan pemerintah kota kediri melalui disbudparpora. Kedepannya untuk simulasi yang kedua, untuk lebih mematangkan kordinasi dengan tim satgas Covid 19, supaya gelaran kesenian jaranan bisa berjalan sesuai yang di harapkan.
Dalam selebarannya, aliansi seniman kediri menuntut pemkot melalui disbudparpora selaku penyelenggara, bertanggung jawab atas pengaturan tempat, pengendalian masa, buka tutup jalan dan koordinasi bukan malah lepas tangan.
Satgas Covid (kecamatan) yang h-1 bicara muluk-muluk, nyatanya tidak ada di tempat. Pihak kelurahan ketami sebagai tuan rumah, seharusnya mendukung terkait banyak hal. Surat edaran walikota hanya “prank”. Tak menyentuh subtansi sama sekali alias isapan jempol belaka. (me)







