
SURABAYA – Dalam rangka menyongsong masa depan Nahdlatul Ulama (NU) yang lebih progresif dan inklusif, Muktamar NU yang akan digelar dalam waktu dekat menjadi ajang penting untuk menentukan kepemimpinan tertinggi organisasi. Salah satu agenda utama dalam Muktamar kali ini adalah pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum NU, dua posisi strategis yang akan memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini selama periode mendatang.
Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum NU selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh seluruh warga NU dan masyarakat luas, karena keduanya memegang peranan vital dalam menentukan arah kebijakan, visi, dan misi organisasi. Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam bidang keagamaan dan ketua sebagai penggerak organisasi, harus dipilih melalui proses yang transparan, demokratis, dan penuh musyawarah.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Sekjen Gerakan Nasional โAyo Mondokโ KH Zahrul Azhar Asumta, atau yang lebih kondang di sapa Gus Hans, di kediaman nya, Surabaya Minggu (4/5/2026).
Gus Hans menyampaikan harapan mulianya bahwa โMuktamar kali ini adalah penentu di abad kedua Nahdlatul ‘Ulama mau diarahkan ke mana. Maka kita perlu sosok yang sejuk, sosok yang santun, sosok yang berisi, sosok yang berilmu, sosok yang memiliki jiwa wira’i yang sangat tinggi.
Saya kira inilah momentum kita untuk merubah drastis dari kepengurusan yang sebelumnya menjadi kepengurusan yang jauh lebih baik lagi, yang fokus kepada ke-umatan, fokus kepada kebangsaan, tidak fokus kepada diri sendiri dan pada kelompoknya masing-masing.โ
Pemahaman yang mendalam akan dinamika kepengurusan Nahdlatul โUlama sebagai Ormas terbesar di dunia ini, menghasilkan himbauan yang menurutnya dapat menjadi masukan bagi kepengurusan Ormas yang sangat dia taโdhim-I ini.
โYang paling bagus adalah ketika di Muktamar ini sudah tidak lagi dimunculkan setiap orang, semua orang, yang telah membuat konflik di belakang hari. Sehingga kita mengajukan NU yang baru, NU yang betul-betul mengawali di abad kedua ini. Mudah-mudahan Muktamirin, para pemilik-pemilik suara di NU menggunakan hati nurani untuk bisa memilih siapakah tokoh-tokoh tersebut.โ
โMinimal bagi Rois ‘Aam, mudah-mudahan adalah orang yang betul-betul memiliki wira’i yang sangat tinggi, keilmuan yang sangat tinggi, setiap pidatonya, setiap ucapanya bisa menjadi buku bagi pegangan orang-orang NU di kemudahan hari. Dan Ketua Umumnya adalah seorang organisatoris yang fokus untuk membina masyarakat Nahdlatul ‘Ulama dimanapun saja, tidak fokus untuk kepentingan pribadinya. Dan saya yakin para Muktamirin bisa memilih sosok-sosok tersebut.โ
Menurut pria zuhud dan cerdas, yang juga selebritis pada beberapa program TV Nasional ini, Gus Hans juga menghimbau kepada para calon panita Muktamar Ormas terbesar di Dunia ini, agar didalam kiprahnya selalu ingat darimana mereka berasal.
โUntuk kepanitiaan, saya berharap kepanitiaan kali ini tidak melibatkan orang-orang yang sedang berkonflik, sehingga bisa meminimalisir terjadinya konflik kepentingan di antara isi dari Muktamar dan juga pelaksanaan dari Muktamar itu sendiri.
Kalau misalnya memang masih melibatkan orang-orang yang berkonflik, maka saya tidak begitu optimis pelaksanaan dari Muktamar ini bisa kembali murni seperti harapan kita bersama. Dan jangan lupa, mereka harus ingat dari ibu kandungnya, yaitu pesantren.
Harapan kita bersama semoga upaya besar ini menjadi berkah bagi Bangsa Indonesia dalam berjuang memperbaiki isi dari Kemerdekaan. (Aji)







