
BANYUWANGI, JAWA TIMUR – Kebakaran lahan tebu seluas 4 hektar di Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, menjadi sorotan pada hari Sabtu malam. Kejadian tersebut mengejutkan warga setempat, dan diduga ada unsur sabotase yang memicu terbakarnya lahan tebu tersebut.
Kejadian ini menghanguskan lahan tebu milik PT Makarti, dan pihak berwenang segera merespons setelah mendapat laporan dari pengelola kebun. Petugas pemadam kebakaran segera diterjunkan, namun sulitnya medan dan minimnya pasokan air menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman.
Ketua BKO Damkar Genteng, Sutikno, menjelaskan bahwa petugas memerlukan waktu empat jam untuk berhasil memadamkan api yang melalap lahan tebu seluas 4 hektar ini. Selain itu, kendala lainnya adalah kurangnya air di lokasi kebakaran, sehingga petugas harus mengambil suplai air dari sungai di desa lain yang berjarak sekitar empat kilometer dari titik kebakaran.
Peristiwa kebakaran lahan tebu ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga mengancam sumber mata air di wilayah setempat. Kehadiran petugas pemadam yang sigap dan berdedikasi sangat penting dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.
Menariknya, ini bukanlah kali pertama perkebunan tebu milik PT Makarti mengalami kebakaran. Sebelumnya, pada 13 Oktober lalu, kebakaran juga terjadi dan diduga disebabkan oleh ulah orang tak dikenal. Kejadian ini memperumit upaya pemadaman karena kondisi tanaman yang kering, sehingga api dengan cepat merembet.
Pihak berwenang perlu segera menginvestigasi penyebab pasti terjadinya kebakaran ini dan menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam sabotase. Keamanan perkebunan tebu dan sumber mata air di daerah ini harus dijaga dengan ketat untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa depan.
Kami berharap agar masyarakat dan pihak terkait dapat bekerja sama dalam menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan di Banyuwangi. Semoga tindakan tegas dapat diambil untuk mengatasi masalah ini dan melindungi aset penting bagi daerah ini.







