
Pekerja bantuan itu, Abdulrahman al-Sadhan, tertahan oleh otoritas Saudi pada Maret 2018. Ia menjadi terlapor dan mendapatkan hukuman 20 tahun penjara. Hukuman tersebut juga beriringan dengan larangan perjalanan 20 tahun. Hal ini menurut pernyataan Departemen Luar Negeri AS pada 6 April.
Dalam sebuah cuitan, Pelosi, seorang politisi Partai Demokrat, mengatakan Kongres akan memantau sidang bandingnya, yang katanya pada Senin, dan “semua pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim.”
“Sangat prihatin dengan tuduhan penyiksaan dalam penahanan pekerja bantuan Abdulrahman al-Sadhan. Hukumannya melanjutkan serangan Arab Saudi terhadap kebebasan berekspresi,” cuit Pelosi. Kedutaan Besar Saudi di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar atas cuitan Pelosi.
Penguasa defacto Saudi Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah bertindak untuk menghancurkan perbedaan pendapat. Ia sambil memperkenalkan reformasi sosial dan ekonomi untuk memodernisasi kerajaan. Pihak berwenang Saudi telah menahan bangsawan senior, aktivis, intelektual, dan ulama.
Dalam sebuah pernyataan April, LSM advokasi MENA Rights Group yang berbasis di Jenewa mengatakan al-Sadhan mendapat tindak pengadilan. Hal ini karena menjalankan dua akun Twitter satire dan ia tertuduh mendanai terorisme, mendukung, atau bersimpati dengan kelompok militan ISIS, dan mempersiapkan, menyimpan, dan mengirim pesan-pesan yang “akan merugikan ketertiban umum dan nilai-nilai agama.”
Kelompok itu juga mengatakan keluarga al-Sadhan telah mengetahui bahwa dia menjadi sasaran siksaan berat dalam penahanan, termasuk “sengatan listrik, pemukulan yang menyebabkan patah tulang, cambuk, digantung di kaki dan digantung dalam posisi stres, ancaman pembunuhan dan pemenggalan kepala, penghinaan, penistaan verbal.” (Reuters)







