spot_img
Kamis, Mei 7, 2026
Beranda BERITA UTAMA Gus Hans Dorong Muktamar NU Lahirkan Kepemimpinan yang Fokus pada Umat

Gus Hans Dorong Muktamar NU Lahirkan Kepemimpinan yang Fokus pada Umat

1

SURABAYA – Sekretaris Jenderal Gerakan Nasional “Ayo Mondok” KH Zahrul Azhar Asumta atau yang akrab disapa Gus Hans menekankan bahwa Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang merupakan momentum krusial bagi organisasi dalam memasuki abad kedua. Kepemimpinan baru diharapkan mampu mengalihkan fokus dari kepentingan kelompok menuju kepentingan keumatan dan kebangsaan.

Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum dalam Muktamar tersebut dinilai akan menentukan arah kebijakan NU di masa depan. Gus Hans mendorong, agar proses pemilihan dilakukan secara transparan, demokratis, dan bersih dari pengaruh individu yang pernah memicu konflik internal.

“Muktamar kali ini adalah penentu di abad kedua Nahdlatul Ulama mau diarahkan ke mana. Kita perlu sosok yang sejuk, santun, berilmu, dan memiliki jiwa wira’i (menjaga diri dari hal syubhat) yang tinggi,” ujar Gus Hans di kediamannya di Surabaya, Minggu (4/5/2026).

Menurutnya, perubahan drastis dalam struktur kepengurusan sangat diperlukan agar organisasi lebih produktif. Ia menyarankan agar para pemilik suara menggunakan hati nurani untuk tidak memunculkan kembali sosok-sosok yang berpotensi memicu konflik di masa mendatang.

Secara spesifik, Gus Hans memaparkan kriteria ideal untuk dua posisi puncak di NU. Untuk posisi Rais Aam, ia mengharapkan sosok yang memiliki kedalaman ilmu dan setiap ucapannya mampu menjadi pegangan bagi warga Nahdliyin. Sementara untuk Ketua Umum, diperlukan seorang organisatoris yang fokus pada pembinaan jemaah.

“Ketua Umumnya haruslah seorang organisatoris yang fokus untuk membina masyarakat Nahdlatul Ulama di mana pun saja, tidak fokus untuk kepentingan pribadinya,” tegasnya.

Selain persoalan figur pemimpin, Gus Hans juga menyoroti komposisi kepanitiaan Muktamar. Ia berharap panitia penyelenggara tidak melibatkan pihak-pihak yang sedang berselisih guna meminimalisasi konflik kepentingan dalam pelaksanaan forum tertinggi organisasi tersebut.

Ia juga mengingatkan agar seluruh perangkat organisasi, baik pengurus maupun panitia, tidak melupakan akar sejarah mereka. “Jangan lupa, mereka harus ingat dari ibu kandungnya, yaitu pesantren,” kata Gus Hans.

Melalui penataan kepengurusan yang lebih inklusif dan bersih, Muktamar NU diharapkan menjadi berkah bagi bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan melalui penguatan organisasi keagamaan yang solid. (Aji)