spot_img
Minggu, Maret 15, 2026
Beranda OLAHRAGA Giliran Atlet Paralimpiade Indonesia Berjuang di Tokyo 2020

Giliran Atlet Paralimpiade Indonesia Berjuang di Tokyo 2020

238

Jakarta – Tongkat estafet perjuangan atlet Indonesia akan berlanjut dalam Paralimpiade Tokyo 2020 yang bergulir dari 24 Agustus sampai 5 September 2021. Sekarang giliran para atlet Paralimpiade Indonesia berjuang. Indonesia memiliki 23 atlet dari tujuh cabang olahraga Paralimpiade Tokyo.

Dari jumlah tersebut, para ahli bulu tangkis dan atletik menjadi cabang yang paling banyak mengirimkan perwakilan. Yang masing-masing tujuh atlet. Kemudian para tenis meja tiga atlet, para menembak dan para renang masing-masing dua atlet. Ada pula wakil dari para balap sepeda dan para powerlifting yang masing-masing mengirimkan satu atlet.

NPC Indonesia menjadi induk organisasi olahraga untuk atlet disabilitas. Mengusung empat target pada Paralimpiade Tokyo, yang dua telah terlampaui. Pertama, atlet yang lolos kualifikasi. NPC Indonesia semula menargetkan mengirim 15 atlet. Jumlah tersebut sudah terlampaui dengan 23 atlet. Sejumlah atlet tersebut telah memastikan diri tampil pada pesta olahraga empat tahunan tersebut. Kedua, merujuk cabang olahraga yang diikuti. Indonesia memastikan turun pada tujuh cabang olahraga, bahkan melebihi bidikan sebelumnya, yakni enam. Kini, tinggal dua target yang tersisa, yakni meraih satu emas dan finish posisi 60 besar. Target yang tersebut, melebihi pencapaian di Rio de Janeiro, ketika pulang dengan satu medali perunggu melalui atlet para powerlifting Ni Nengah Widiasih, yang turun dalam kelas 41kg putri. Perolehan medali ini menempatkan Indonesia pada posisi 76 klasemen akhir medali.

Indonesia dikenal sebagai negara yang unggul dalam cabang olahraga angkat besi dan bulu tangkis. Pada Olimpiade Tokyo, lima medali berasal dari dua cabang ini. Demikian dengan Paralimpiade Tokyo, harapannya atlet dari para badminton dan para powerlifting bisa mendulang medali seperti atlet  Olimpiade Tokyo.

Pada Paralimpiade Tokyo, Indonesia berkekuatan 23 atlet (14 putra dan 9 putri). Jumlah ini terbanyak sepanjang sejarah Merah Putih mengikuti pesta olahraga atlet disabilitas empat tahunan tersebut. Debut Indonesia terjadi pada Paralimpiade Toronto, Kanada tahun 1976. Kala itu, Indonesia mengirim 12 atlet, semuanya putra. Indonesia membawa pulang dua emas, satu perak, enam perunggu, dan finish urutan ke-26.

Empat tahun kemudian dalam Paralimpiade Arnhem, Belanda, 1980, amunisi Indonesia bertambah menjadi 15 atlet dan semuanya putra. Namun, pencapaian Indonesia menurun dan finish urutan 28 dengan dua emas dan empat perunggu.

Lanjut ke Paralimpiade 1984 yang bergulir di New York, Amerika Serikat, dan Stoke Mandeville, Inggris. Kontingen Indonesia mengirimkan delapan atlet masing-masing enam putra dan dua putri. Jumlah atlet yang dikirim sejalan dengan penurunan prestasi. Indonesia gagal meraih emas dan harus puas pulang membawa satu perak dan perunggu. Indonesia finis urutan ke-41.

Lalu Paralimpiade bergulir di Seoul, Korea Selatan, pada 1988. Dengan 19 atlet (17 putra dan dua putri), Indonesia meraih dua perak dan menempati peringkat ke-43. Lalu pada Paralimpiade Barcelona dan Madrid pada 1992, Indonesia absen. Empat tahun berselang, Merah Putih kembali berlaga dalam Paralimpiade Atlanta 1996. Kala itu Indonesia hanya mengirim satu atlet dan pulang dengan tangan hampa. Paceklik medali berlanjut dalam tiga edisi Paralimpiade Sydney 2000 (empat atlet putra), Athena 2004 (tiga atlet putra), dan Beijing 2008 (dua atlet putra dan satu putri). David Jacobs menjadi pelepas dahaga dengan meraih medali perunggu dalam Paralimpiade London 2012, ketika Indonesia mengirimkan tiga atlet putra dan satu putri untuk finis urutan ke-74.

Di Rio de Janeiro 2016, Indonesia berkekuatan sembilan atlet membawa satu perunggu dan finish peringkat ke-74. Harapannya dalam Paralimpiade ini Indonesia bisa meraih hasil maksimal dan memenuhi target satu emas. Menghapus empat dekade Indonesia tanpa medali Paralimpiade. (antara/gg/ed: zl)