spot_img
Senin, Maret 16, 2026
Beranda NASIONAL Fakta Masjid di Garut Jadi Tempat Baiat NII

Fakta Masjid di Garut Jadi Tempat Baiat NII

243
Sumber : Ist

Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menyatakan bahwa tidak ada yang pernah mengacau negara itu lewat masjid, tak pernah ada dibaiat di masjid, macam-macam.

Jusuf Kalla mengatakan aksi radikalisme justru berasal dari rumah kontrakan. Seperti aksi-aksi pembuatan bom, membentuk kelompok-kelompok dan jaringan, bahkan membuat aksi radikalisme. Maka JK mendorong untuk memeriksa semua rumah kontrakan.

Di lain pihak, Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan justru berbeda pendapat dengan Jusuf Kalla, menurut Ken memang ada masjid masjid yang dimanfaatkan oleh oknum kelompok radikal untuk membina kadernya.

Di Garut ada masjid dikelurahan Sukameter yang digunakan pembaiatan 59 anggota NII, bahkan informasi terakhir dari PCNU garut bahwa sudah ada 41 kecamatan dari 42 kecamatan di Garut sudah terpapar NII. Artinya kelompok NII sudah masuk di seluruh daerah di Kabupaten Garut menurut Ken.

Di Bandar Lampung juga ada masjid Kekhilafahan yang dijadikan sentral pusat kegiatan kelompok Khilafatul Muslimin yang kini pimpinan tertingginya sedang ditahan Polda Lampung. Kelompok Khilafatul Muslimin juga sudah tersebar di 15 Kabupaten/ Kota se Lampung, mereka menggunakan masjid sebagai tempat sosialisasi pergerakan tentang Khilafah.

BNPT belum lama juga merilis ada ratusan pesantren yang terindikasi berafiliasi dengan jaringan teroris.

Bahkan menurut Ken ada pesantren yang terbesar di Asia Tenggara yang merupakan pusat atau ibu kota NII yaitu Pesantren Alzaytun di Indramayu Jawa Barat, yang justru pas Jusuf Kalla dulu pernah menyumbang di sana. Di sana ada masjid Rahmatan Lil Alamin yang memuat 100 ribu jamaah.

Ken menyebut bahwa dalam pilgub DKI merupakan bukan hal aneh yang justru masjid dijadikan alat politik supaya agar tidak mencoblos pasangan yang berbeda keyakinan, bahkan beredar banyak spanduk di masjid masjid wilayah DKI yang beda pilihan maka jenazahnya sampai tidak boleh disholatkan.

Rumah ibadah dijadikan politisasi untuk kepentingan politik, dan jelang pilpres 2024 ada kemungkinan politisasi agama bakal kembali terulang, masyarakat harus cerdas jangan sampai politisasi agama seperti yang pernah terjadi bakal terulang kembali. (kontraradikal/KenSetiawan)