Banyuwangi – Menunggu, sebagian orang memaknainya sebagai sebuah pekerjaan yang membosankan. Namun, jika menunggu dengan sabar, apalagi sembari belajar dan berdoa, maka hasilnya akan menyenangkan dan berubah menjadi indah.
Keberkahan dan indahnya hidup telah Suhartoyo rasakan. Ia merupakan pria asal Kelurahan Singonegaran, Banyuwangi. Saat menunggu pembeli dari dagangan semangka dan melon yang ia jajakan. Ia belajar membuat alat musik angklung atau patrol. Kini, hasil belajarnya itu, justru mendatangkan rezeki sebagai tambahan peningkatan ekonomi keluarganya.
Jika melintas di Jalan Letkol Istiqlah Banyuwangi akan mendengar musik mengalun lembut dari lapak bambu. Masyarakat using, suku asli Banyuwangi mengenal musik tabuh yang terbuat dari bambu dengan sebutan Angklung Paglak.
Berawal dari iseng pinjam alat musik angklung milik teman saat menunggu dagangan semangkanya. Akhirnya Suhartoyo, bapak tiga anak itu berinisiatif mencoba untuk membuat sendiri.
Kenyataan tak semudah yang ia bayangkan, seringkali gagal, awalnya butuh pengorbanan yang cukup besar. Karena tidak sedikit bambu yang terpakai membuat angklung tidak jadi.
Kini, lapak di Jalan Letkol Istiqlah Banyuwangi itu, tak hanya sedia semangka dan melon. Namun juga menjual hasil karyanya, mulai harga 750 ribu hingga satu juta lima ratus rupiah. Sedang genta angin di jual tiga puluh ribu rupiah.
Suhartoyo berharap bagi generasi muda yang ingin belajar di persilahkan datang ke lapaknya. Semua itu, agar seni tradisional warisan budaya leluhur yang adi luhung tetap terjaga dan lestari, tidak punah. (aw)







