
TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR – Angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur terus mengalami penurunan sejak tahun 2020. Saat ini, angka kemiskinan ekstrem di provinsi ini berada di bawah rata-rata nasional. Pemerintah provinsi sendiri terus melakukan upaya penguatan ekonomi di desa-desa untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan ekstrem ini. Mereka berharap program ekonomi di desa dapat stabil sehingga dapat membantu mengatasi kemiskinan ekstrem.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan hal ini saat membuka Jambore Bumdesa ke-3 di Taman Nangkula Park, Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Jambore ini diikuti oleh puluhan peserta Bumdesa perwakilan dari berbagai kabupaten dan kota. Selain itu, beberapa peserta Jambore juga merupakan pengelola desa wisata.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah memamerkan prestasi Jawa Timur dalam upaya penurunan kemiskinan ekstrem. Menurut data, angka kemiskinan ekstrem di provinsi ini turun hingga 3,58 persen. Pada tahun 2020, angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur mencapai 4,4 persen, namun pada bulan Maret angkanya telah turun menjadi 0,82 persen. Angka tersebut berada di bawah rata-rata angka kemiskinan ekstrem nasional yang mencapai 1,2 persen.
Keberhasilan penurunan angka kemiskinan ekstrem ini tidak terlepas dari upaya pemerintah provinsi dalam melakukan penguatan ekonomi di desa. Khofifah telah mendorong ekonomi desa melalui program Bumdesa, desa wisata, dan desa devisa. Melalui program ini, tenaga kerja di desa dapat terserap dan ekonomi desa dapat terangkat. Meski begitu, Khofifah mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.
“Penurunan angka kemiskinan ekstrem ini disebut tertinggi di antara provinsi lain. Saya optimis angka tersebut bisa mencapai 0 persen dalam waktu dekat ini,” ujar Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur.







