spot_img
Jumat, Mei 1, 2026
Beranda BERITA VIDEO Seorang Nenek Tidur diatas Batu, Terbantukan Oleh Tim STMJ

Seorang Nenek Tidur diatas Batu, Terbantukan Oleh Tim STMJ

481

BONDOWOSO – Di balik keramaian kota Bondowoso, terdapat sebuah komunitas yang telah menjalin rasa solidaritas yang erat, mengatasi batasan kota maupun desa terpencil. Komunitas “Seduluran Tanpa Memandang Jabatan” (STMJ) dipimpin oleh sosok dermawan, Imam Alfaatih, seorang pria sederhana yang dahulu berdagang asongan di Terminal Tuban. Namun, semangat kebaikannya tidak pernah pudar.

Dengan pandemi yang mewarnai hari-hari, semakin banyak anak yatim dan kaum dhuafa yang merasa terlantar. Inilah yang menggerakkan hati murni Imam Alfaatih untuk mendirikan komunitas STMJ, sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar. “Saya merasa prihatin melihat saudara-saudara kita yang belum tersentuh bantuan, terutama di pinggiran kota maupun desa terpencil,” tutur Imam Alfaatih.

Slogan “Masih Butuh Tangan Orang Lain” bukan hanya kata-kata kosong bagi STMJ. Komunitas ini bergerak di tengah-tengah masyarakat Bondowoso dengan tekad kuat untuk memberikan uluran tangan. Dalam salah satu aksinya, mereka mengunjungi seorang nenek tua bernama Sari, yang hidupnya terlunta-lunta di atas batu. Tanpa keluarga atau sanak saudara, Sari menjalani hari-harinya sendirian di Dusun Tegal Tengah, Kelurahan Curahdami.

Tim STMJ tidak hanya memberikan bantuan materi, tapi juga memberi sentuhan kehangatan dalam bentuk obrolan dan tawa. “Kami mengajak Mbah Sari makan bersama sambil berbicara ringan, melupakan beban hidup sejenak. Ini adalah cara kami mendekatkan diri kepada mereka yang membutuhkan,” ujar salah satu anggota STMJ.

Pada hari yang sama, berbagai bantuan juga disalurkan kepada warga sekitar, termasuk pembagian beras dan santunan. Sebuah langkah kecil yang mampu menghadirkan senyum di wajah-wajah yang pernah merasakan kelaparan dan kesulitan. “Kami ingin berbagi kebahagiaan dan menghilangkan beban hidup mereka. Setiap tindakan kecil memiliki makna yang besar bagi kami,” tambah Imam Alfaatih.

Melalui komunitas ini, Imam Alfaatih ingin menyampaikan pesan bahwa kita semua masih memerlukan bantuan dan dukungan satu sama lain. “Motto STMJ bukanlah ‘Merasa Bisa’, tapi ‘Kita Bisa Merasa’. Kita tidak bisa hidup sendiri, kita membutuhkan satu sama lain dalam perjalanan kebaikan ini,” tegasnya.

Dengan langkah-langkah kecil dan tangan-tangan penuh kebaikan, STMJ membuktikan bahwa kebaikan tak hanya sekadar kata-kata. Mereka telah merajut tali solidaritas di tengah masyarakat, membuktikan bahwa dalam situasi sulit seperti ini, masih ada cahaya harapan yang terus menyala.