Trenggalek – Polres Trenggalek, Jawa Timur mengintensifkan patroli secara berkala di sejumlah daerah yang telah teridentifikasi rawan longsor. Hal tersebut seiring tertemukannya titik-titik rekahan maupun pergeseran tanah yang mengancam permukiman warga maupun fasilitas umum.

“Patroli ini untuk memetakan sekaligus antisipasi kerawanan yang timbul akibat bencana alam berikut progres apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi fatalitas korban,” kata Kapolres Trenggalek AKBP Dwiasi Wiyatputera di Trenggalek, Rabu.

Mengacu data BPBD maupun kepolisian, total ada 45 desa yang tersebar di 10 kecamatan yang dipetakan sebagai daerah rawan longsor.

Peristiwa longsor bahkan sudah beberapa kali terjadi dan menimpa rumah-rumah warga. Terbaru kejadian longsor terjadi pada Selasa (23/11) malam, sekitar pukul 21.00 WIB di Desa Depok Kecamatan Bendungan.

Kendati tidak sampai menyebabkan korban jiwa maupun luka-luka, kerugian akibat serangkaian longsor selama tiga pekan terakhir menyebabkan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Setidaknya ada sekitar 30 rumah rusak terdampak longsor merujuk catatan BPBD Trenggalek pada tiga pekan terakhir.

Untuk mengantisipasi potensi longsor di musim hujan, Polres Trenggalek menyiagakan tim satgas bencana.

“Personel juga disiagakan jika sewaktu-waktu di butuhkan. Hari ini kita turunkan anggota baik dari Polres maupun Polsek jajaran untuk membantu pembersihan dan evakuasi,” kata Dwiasi.

Sekretaris BPBD Trenggalek, Tri Puspita Sari mengatakan, puluhan desa itu ada di 10 kecamatan. Meliputi, Watulimo, Tugu, Trenggalek, Pule, Panggul, Munjungan, Kampak, Durenan, Dongko, dan Kecamatan Bendungan. Di Trenggalek ada 152 desa dan 5 kelurahan di 14 kecamatan.

“Secara global ada berapa titik krusial rawan longsor. Ini harus warga waspadai ketika musim hujan, yaitu 45 desa di 10 kecamatan,” ujarnya.

Titik terbanyak potensi rawan longsor saat musim penghujan dari 45 desa tersebut ada di Kecamatan Pule dengan jumlah sebanyak 10 desa. Titik rawan longsor itu berada di Desa Joho, Jombok, Karanganyar, Kembangan, Pakel, Kembangan, Pule, Sidomulyo, Sukokidul dan Desa Tanggaran.

Untuk meminimalisasi risiko bencana, BPBD sudah mengambil beberapa langkah. Di antaranya adalah memberikan bronjong kepada desa rawan longsor. Mengajukan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi kerusakan akibat bencana ke BNPB dan BPBD provinsi hingga meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana. (Antara/dhs)