
Sleman, Yogyakarta – Tak hanya domba berbobot besar yang dihasilkan dari kawin silang, persilangan antar domba disebut bisa menghasilkan keturunan yang memiliki nilai seni. Salah satunya domba bertanduk empat.
Salah seorang pemilik domba bertanduk empat, Ari Wibowo, warga Dusun Pundong iii, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Sleman, menyebut, domba bertanduk empat memiliki nilai seni. Pemasarannya yang mash sebatas di kalangan penghobi, membuat harganya bisa mencapai angka fantastis, mulai jutaan hingga puluhan juta rupiah, bahkan disebutkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah.
Karenanya, kini ia mencoba mulai mengembangbiakkan dengan cara mengawinkan jantan domba bertanduk empat dengan domba betina lokal maupun Garut, harapannya diperoleh turunannya yang bertanduk empat.
Ari menyebut, domba bertanduk empat yang ia miliki saat ini ada dua jenis pejantan yakni garut dan lokal yang ia peroleh dari pembudidaya asal Tasik, Jawa Barat. Masing-masing berusia delapan bulanan dengan postur tubuh sedang, untuk jenis garut warna tanduk hitam sehingga serasi dengan kulit tubuhnya yang berwarna belang sapi. Sementara satu domba lagi berjenis domba lokal dengan tanduk berwarna kuning, dengan bulu domba keriting. Untuk merawat keempat tanduk agar tumbuh bagus, biasanya Ari Wibowo menggunakan minyak biawak yang dioleskan disetiap pangkal tanduk sembari dipijit perlahan-lahan.
Ari Wibowo menambahkan, domba bertanduk lebih dari sepasang ini disebut tergolong kelas unik dalam sebuah kompetisi antar domba. Ia menyebut, setidaknya persilangan antar domba selain menghasilkan bobot besar untuk mencukupi kebutuhan konsumsi daging, juga menaikkan nilai jual domba itu sendiri dari bentuk yang dihasilkan. (di)







