
Sleman, Yogyakarta – Kesultanan Ngayogyakarta mempunyai tradisi unik saat menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Selain gelaran sekaten di halaman Alun Alun Kraton. Di gelar pula tradisi sholawatan jawa di Masjid Patok Negoro dan masjid pendamping milik kraton. Salah satunya adalah gelaran sholawat jawa di masjid Kagungan Dalem Sambisari, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman.
Suasana saat warga masyarakat di Dusun Sambisari sedang memperingati kelahiran atau maulud Nabi Muhammad saw. Warga sedang melantunkan sholawat madyo laras, sebuah sholawat, puji pujian. Serta doa kepada Nabi Muhammad tetapi dengan menggunakan Bahasa Jawa. Musik pengiringnyapun juga menggunakan beberapa alat musik tradisional Jawa seperti kendang, gong, kempul, dodok dan kempyang.
Bahasa Jawa yang di gunakan dalam sholawat madyo laras ini merupakan saduran dari kitab barzanji yang aslinya berbahasa arab. Selain sholawat berbahasa arab, sejak jaman sultan Hamengkubuwono ix, juga mulai di tradisikan sholawat campuran antara bahasa arab dan bahasa jawa dengan menggunakan nada jawa.
Kegiatan sholawatan menyambut maulud ini sudah menjadi tradisi di empat masjid patok negoro dan masjid masjid pendamping milik kesultanan Ngayogyakarta. Pada jaman hamengkubuwono ix bertahta, kelompok sholawat dari masjid masjid ini diundang ke kraton pada saat puncak peringatan maulud nabi muhammad untuk tampil.
Bersyukur tradisi sholawatan ini masih lestari sampai saat ini. Meskipun selama masa pandemi ini sudah dua periode gelaran sholawatan ini ditiadakan. Dengan turunnya level pandemi, pihak masjid kembali memutuskan menggelar acara sholawatan meskipun dengan cara yang sederhana dan peserta tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker. (di)







