Connect with us

Regional

Melestarikan Tradisi Kesultanan Sambut Maulid Nabi

Diterbitkan

pada

Sleman, Yogyakarta – Kesultanan Ngayogyakarta mempunyai tradisi unik saat menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Selain gelaran sekaten di halaman Alun Alun Kraton. Di gelar pula tradisi sholawatan jawa di Masjid Patok Negoro dan masjid pendamping milik kraton. Salah satunya adalah gelaran sholawat jawa di masjid Kagungan Dalem Sambisari, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman.

Suasana saat warga masyarakat  di Dusun Sambisari sedang memperingati kelahiran atau maulud Nabi Muhammad saw. Warga sedang melantunkan sholawat madyo laras, sebuah sholawat, puji pujian. Serta doa kepada Nabi Muhammad tetapi dengan menggunakan Bahasa Jawa. Musik pengiringnyapun juga menggunakan beberapa alat musik tradisional Jawa seperti kendang, gong, kempul, dodok dan kempyang.

Bahasa Jawa yang di gunakan dalam sholawat madyo laras  ini merupakan saduran dari kitab barzanji yang aslinya berbahasa arab. Selain sholawat berbahasa arab, sejak jaman sultan Hamengkubuwono ix, juga mulai di tradisikan sholawat campuran antara bahasa arab dan bahasa jawa dengan menggunakan nada jawa.

Kegiatan sholawatan menyambut maulud ini sudah menjadi tradisi di empat masjid patok negoro dan masjid masjid pendamping milik kesultanan Ngayogyakarta. Pada jaman hamengkubuwono ix bertahta, kelompok sholawat dari masjid masjid ini diundang ke kraton pada saat puncak peringatan maulud nabi muhammad untuk tampil.

Bersyukur tradisi sholawatan ini masih lestari sampai saat ini. Meskipun selama masa pandemi ini sudah dua periode gelaran sholawatan ini ditiadakan. Dengan turunnya level pandemi, pihak masjid kembali memutuskan menggelar acara sholawatan meskipun dengan cara yang sederhana dan peserta tetap mematuhi protokol kesehatan  dengan menggunakan masker. (di)

Continue Reading
Advertisement

Jawa Timur

Terjun di Zona Merah, Tim Gabungan BPBD Kediri Berhasil Evakuasi Korban

Diterbitkan

pada

Sumber : Hasil tangkap layar Youtube Redaksi Madu TV

Lumajang – Tim Gabungan Relawan BPBD Kota Kediri diterjunkan di zona merah pasca erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Sebelum keberangkatan, tim menggelar apel pemberangkatan tim SAR penyisiran dan evakuasi korban erupsi Gunung Semeru Senin (6/12) di lapangan Desa Sumberwuluh. Tim SAR gabungan terdiri dari TNI, POLRI dan Relawan.

Pencarian korban difokuskan di zona merah Gladak Perak yang mengalami kerusakan paling parah. Di mana jembatan putus dan jalan tertutup material longsoran letusan.

Basarnas memberikan tugas kepada Tim Gabungan Relawan BPBD Kota untuk melakukan proses evakuasi di ring zona merah Gladak Perak karena daerah tersebut rawan luncuran lahar dingin awan panas dan longsoran material letusan.

Ketua DPD PEKAT IB, Roy Kurnia Irawan mengatakan, mereka melakukan proses evakuasi di zona merah. Setelah sampai di lokasi, tim langsung melakukan proses penyisiran dari rumah ke rumah mencari korban yang mungkin belum sempat mengungsi.

Namun, tiba-tiba terjadi luncuran lahar dingin dan awan panas disertai bau belerang. Usai tim melakukan koordinasi dengan Ketua FPRB, Joko/Aji, tim memutuskan membawa sekitar 20 warga (lansia, wanita dan balita) untuk kembali ke posko pengungsi.

Selama dua hari di zona merah tim berhasil mengevakuasi sekitar 30 warga dengan menggunakan ambulance dan mobil evakuasi milik BPBD. (red)

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: