Jakarta – Suasana haru terasa dihadirkan dalam diskusi yang diisi oleh tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia, antara lain aktivis HAM dan Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, serta sejarawan terkemuka, Bonnie Triyana. Acara ini juga turut dihadiri oleh politikus PDIP dan saksi peristiwa 27 Juli 1996, Ribka Tjiptaning, dengan Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, yang bertindak sebagai moderator.
Diskusi yang mengawali peringatan peristiwa bersejarah bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut, diawali oleh Hasto Kristiyanto yang menyampaikan pesan dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Megawati mengingatkan bahwa peristiwa 27 Juli 1996 bukanlah sekadar pelanggaran HAM biasa, melainkan juga menjadi sumber inspirasi perjuangan bagi partai ini, yaitu rakyat. Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa kekuatan PDIP berasal dari kekuatan rakyat, yang senantiasa menjadi sumbu utama gerakan politik partai.
Hasto mengenang masa kelam ketika suara-suara rakyat tidak dapat tersampaikan pada tahun 1986, namun Megawati dengan penuh semangat turun langsung ke masyarakat. Menjadi kader bangsa yang telah digembleng oleh Bung Karno, Megawati tidak gentar untuk turun ke bawah dan merangkul arus bawah karena di sanalah sejatinya kekuatan terbesar kita berada.
Kala itu, sambung Hasto, arus bawah yang turut bergerak memberikan dukungan yang kuat pada setiap langkah politik Megawati. Di tengah tekanan dari benteng-benteng kekuasaan yang menindas, Megawati tidak pernah gentar. Hasto mengingatkan bahwa kantor PDIP menjadi saksi bisu serangan brutal dengan berbagai elemen kekuasaan negara pada 27 Juli 1996.
“Kudatuli bukan hanya tonggak sejarah yang sangat penting bagi PDIP, tetapi juga menjadi harapan dan pengingat bahwa kekuasaan tidak bisa dibangun dengan cara-cara otoriter,” tegas Hasto.
Peristiwa Kudatuli, yang merupakan serangan dan pengambilalihan paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996, merupakan peristiwa bersejarah yang menyita perhatian seluruh masyarakat. Penyerbuan tersebut dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi dengan bantuan aparat keamanan.
Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting DPP PDIP, antara lain Rokhmin Dahuri, Ahmad Basarah, dan Wiryanti Sukamdani. Keluarga korban peristiwa 27 Juli 1996 yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kerukunan (FKK) 124 juga hadir untuk mengenang tragedi yang menggetarkan bangsa.
Sejarah Kudatuli mengajarkan banyak pelajaran berharga, di mana kekuatan sejati suatu partai politik terletak pada kebersamaan dengan rakyat. Semangat Megawati dan kesatuan arus bawah menjadi pendorong utama bagi PDIP dalam menghadapi berbagai tantangan politik. Melalui diskusi ini, diharapkan semangat kebersamaan dan kedaulatan rakyat akan terus menggelora, menjadi pemersatu bangsa, dan mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih cerah.







