
Bandung – Presiden RI Joko Widodo meminta agar insan penyiaran Indonesia mengawal dan bertanggung jawab dalam pembangunan mental dan karakter bangsa.
Presiden dalam sambutannya pada peringatan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-89, di Bandung, Jawa Barat, secara virtual pada Jumat (1/4/2022) mengatakan, lembaga penyiaran tidak semata-mata memberikan tontonan, hiburan, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Tetapi juga harus memberikan edukasi dan sumber inspirasi yang mencerahkan kepada masyarakat. Pihaknya menyebut, pergeseran analog ke digital di semua sektor kehidupan sudah tidak dapat dihindarkan lagi.
Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah ke-16 (2005-2012), mengatakan insan penyiaran ditantang merespon situasi yang berkembang dan sangat dinamis menghadapi disterupsi, perkembangan teknologi yang sekaligus membawa implikasi terhadap cara baru masyarakat dalam mencari dan memperoleh berita serta cara baru masyarakat dalam memproduksi dan menikmati siaran tontonan.
Penghentian siaran analog atau analog swift-off (ASO) tambahnya, tidak hanya menyangkut perubahan aspek teknologi penyiaran. Tetapi juga menyangkut cara pandang, sikap, perilaku budaya, serta aspek lain agar menjadi adaptif dalam merespon perubahan.
Ia menegaskan pemerintah akan terus merumuskan kebijakan, merumuskan kerangka regulasi yang berkeadilan, modern dan adaptif terhadap persaingan yang mampu mendorong tumbuh majunya ekosistem indutri kreatif dalam negeri, serta membuktikan kemampuan dalam berkompetisi di tingkat global.
Pihaknya berharap Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) semakin adapatif dengan situasi terbaru dalam menjalankan peran pengawasan dengan baik. (red)







