BANYUWANGI β Sudah hampir satu minggu tepatnya sejak 19 Oktober, harga kedelai impor terus mengalami kenaikan.
Kini harga bahan utama pembuatan tahu dan tempe itu telah tembus harga Rp14.000 dari harga sebelumnya Rp13.000. Sementara untuk kedelai lokal harga per kilogramnya mencapai Rp11.500 dari harga sebelumnya yang hanya Rp9.000.
Dengan naiknya harga kedelai ini membuat pengusaha dan pengerajin tahu tempe memutar otak agar usahanya tetap berjalan dan tidak gulung tikar. Para pengusaha dan pengerajin tahu tempe terpaksa mengurangi ukuran menjadi lebih kecil.
Hal tersebut dilakukan lantaran mereka enggan menaikan harga tahu tempe karena takut pelanggan beralih ke pedagang lain.
Selain itu juga mereka merasa iba kepada para pelanggan karena perekonomian masih belum sepenuhnya membaik paska pandemi COVID-19.
Salah satu pembuat tahu tempe Samiatun yang sudah puluhan tahun membuat tahu tempe ini mengakui jika dirinya tidak dapat berbuat banyak dengan naiknya kedelai.
Dirinya hanya dapat mengurangi ukuran tahu tempe beberapa garam untuk tempe bungkusan sedangkan untuk tempe potong ia mengurangi ukuran hingga satu cm.
Samiatun bersama suaminya Romlan yang tinggal di Dusun Kopendesa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, ini mengurangi ukuran tempenya namun juga terkadang ia mendapat protes dari pelanggannya karena pelanggan juga tidak mengetahui jika harga kedelai terus merangkak naik.







