spot_img
Selasa, April 7, 2026
Beranda Jawa Timur Antisipasi Overload dan Kurangi Dampak Bau, DLHKP Normalisasi Kolam Air Lindi di...

Antisipasi Overload dan Kurangi Dampak Bau, DLHKP Normalisasi Kolam Air Lindi di TPA Kota Kediri

293

Kediri – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan melakukan normalisasi dan resirkulasi saluran Instalasi Pipa Air Limbah dan kolam penampungan air lindi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok, Kota Kediri. Setelah 7 tahun beroperasi, hal ini untuk mengefektifkan kembali penguraian bakteri pada air lindi atau biasa air dari sampah organik sehingga tidak menimbulkan bau menyengat di sekitar TPA.

Pengerjaan pada saat musim kemarau sebagai antisipasi kolam penampungan akan overload saat musim hujan tiba. Hal ini karena dapat dipastikan nantinya air lindi yang bercampur dengan air hujan akan ditampung di kolam tersebut.

Normalisasi dan resirkulasi kolam ini berupa pengurasan dan pengedukan lumpur endapan secara bertahap pada kolam anaerob, fakultatif, maturasi, dan wetland. Selanjutnya, kolam yang telah bersih akan terisi bakteri yang dapat memproses air lindi menjadi air yang dapat lepas ke badan air atau resap ke tanah.

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, menyampaikan, selain fokus pada penanganan Covid-19, Pemkot Kediri juga mengantisipasi potensi masalah dan bencana di wilayah Kota Kediri. Seperti, contoh oleh DLHKP sebagai langkah proaktif untuk menangani tanpa harus menunggu kolam air lindi penuh.

Mas Abu pun mengimbau bagi warga Kota Kediri untuk ikut bersinergi menjaga lingkungan dengan memilah sampah dan mengurangi plastik sekali pakai.

“Dapat mulai dari rumah, untuk kita biasakan diri memilah sampah organik dan anorganik. Hal ini juga ada dalam Prodamas, untuk tiap kelurahan membuat biopori komposter. Nanti sampah organik dapat tertampung di komposter, melalui proses pengolahan, dan menjadi pupuk. Lalu untuk sampah anorganik, dapat tertampung di bank sampah terdekat,” ujar Mas Abu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan, Mohamad Anang Kurniawan, menyampaikan, kegiatan perawatan ini tidak memiliki rentang waktu pasti, kapan harus masuk proses normalisasi. Sehingga, ketika kondisi cukup penuh, dapat melalui proses perawatan.

“Kondisi pengecekan terakhir, kolam-kolam hampir penuh air dan di kolam yang terakhir terdapat endapan sedimen yang juga hampir memenuhi kolam. Sehingga segera ada perawatan karena khawatir nantinya proses penguraian tidak maksimal. Saat musim hujan kolam bisa overload,” ujar Anang.

DLHKP Normalisasi Kolam Air Lindi di TPA Kota Kediri. Dok: Muhtar Efendi.

“Proses tersebut tidak maksimal karena adanya endapan lumpur yang sudah cukup tebal. Normalnya, kondisi air dalam kolam ini pun berwarna hijau pekat,”ujar Ridwan.

Ridwan menguraikan, terdapat beberapa proses pengolahan air lindi hingga sampai dapat dilepas ke badan air. Mulai dari air lindi yang tertampung di dasar TPA, mengalir melalui pipa menuju kolam anaerob yang terdapat bakteri untuk mengurai kandungan dalam air lindi.

Selanjutnya, air mengalir menuju kolam fakultatif yang telah berisi alga untuk membuang amonia. Setelah itu, di dalam kolam maturasi akan terjadi penyaringan lumpur halus. Serta akhirnya akan masuk di area wetland untuk penyaringan lagi dan siap masuk outlet. (me)