Blitar – Kericuhan yang terjadi antara petugas kepolisian dan sejumlah mahasiswa serta petani di Blitar akhirnya mereda setelah berbagai upaya mediasi dan dialog. Peristiwa ini bermula ketika sekelompok petani dan mahasiswa memasuki gedung kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar dengan tujuan menemui Bupati Blitar untuk menyampaikan tuntutan mereka.
Petugas kepolisian yang berjaga di lokasi segera menghadang para petani dan mahasiswa, menciptakan momen ketegangan yang tak terhindarkan. Aksi saling tarik dan dorong pun terjadi, menciptakan suasana keruh di sekitar lokasi demonstrasi.
Namun, keberhasilan meredanya kericuhan ini datang setelah perwakilan dari Pemkab Blitar dan Kantor Agraria keluar untuk menemui massa yang berkumpul. Dialog yang dibangun oleh perwakilan pemerintah dengan perwakilan petani dan mahasiswa membuka jalan menuju penyelesaian damai.
Menurut Ketua Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Kinan, para petani sengaja turun ke jalan untuk menyuarakan permasalahan tanah perkebunan di Kruwuk dan Banaran, yang sudah habis masa Hak Guna Usaha (HGU). Para petani menuntut agar pemerintah segera mendistribusikan lahan kepada mereka. Selain itu, mereka juga mengkritik Pemkab Blitar yang dianggap tidak berpihak kepada rakyatnya.
Sebelumnya, ratusan petani dan mahasiswa tiba di kantor Pemkab Blitar yang diawasi oleh petugas kepolisian. Mereka tidak hanya berorasi, tetapi juga membawa poster dengan tulisan-tulisan yang mengkritik konflik agraria yang sedang berlangsung.
Kondisi mereda nya kericuhan ini menunjukkan pentingnya dialog dan mediasi dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Dengan berjalannya dialog yang konstruktif, diharapkan masalah agraria di Blitar bisa diselesaikan dengan cara yang adil dan berpihak kepada rakyat. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama untuk mencapai solusi yang baik bagi seluruh masyarakat.







