Madutv,Tulungagung, RAMADHAN PARADISE: Keutamaan Malam Lailatul Qadar — Menyingkap Rahasia Malam Seribu Bulan
Suasana sore di Pondok Pesantren MADU KH. Ahmad Badjuri Campurdarat kembali dipenuhi cahaya ruhani dalam rangkaian kegiatan Ramadhan Paradise. Mengangkat tema “Keutamaan Malam Lailatul Qadar”, kajian ini menghadirkan Prof. Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M.Ag sebagai narasumber utama, yang membedah makna malam agung tersebut melalui perspektif tasawuf dan Kitab Al-Hikam.
Kegiatan yang berlangsung setiap hari pukul 16.45 WIB hingga menjelang Magrib ini semakin syahdu dengan iringan lantunan sholawat dari PAC Fatayat Ngunut Althafun Nisa’ – Ngunut, bersama para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren MADU KH. Ahmad Badjuri serta siswa-siswi SMP Islam KH. Ahmad Badjuri.
Acara ini disiarkan secara luas melalui MaduTV Nusantara Jatim 1 dan Jatim 7, serta Radio MDS FM Tulungagung frekuensi 91,3 MHz, sehingga keberkahan ilmu dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Dalam pemaparannya, Prof. Muntahibun Nafis mengutip ungkapan agung dari Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam:
“Bagaimana mungkin cahaya Tuhan bisa menyinari hati, sementara bayangan dunia masih terpantul di cermin hatinya?”
Ungkapan ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang dicari dengan begadang dan ibadah lahiriah semata, tetapi malam yang hanya “singgah” pada hati yang bersih, hening, dan fana dari selain Allah.
Menurut beliau, Lailatul Qadar adalah puncak perjalanan spiritual seorang hamba selama Ramadhan. Namun pertanyaannya, apakah malam itu akan hadir bagi hati yang masih dipenuhi ambisi duniawi, kesombongan, riya’, dan cinta berlebihan pada makhluk?
Keutamaan Malam Lailatul Qadar — Menyingkap Rahasia Malam Seribu Bulan
Menyucikan Cermin Hati
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa keutamaan malam seribu bulan terletak pada kesiapan hati menerima cahaya Ilahi. Jika hati masih dipenuhi “berhala-berhala dunia”, maka cahaya itu sulit memantul.
Santri dan jamaah diajak untuk:
Melatih keikhlasan dalam setiap amal.
Mengurangi keterikatan pada pujian manusia.
Memperbanyak dzikir dan tafakkur menjelang waktu Magrib.
Menjadikan setiap tarikan nafas sebagai bentuk kesadaran akan kehadiran Allah.
Prof. Muntahibun menekankan bahwa Lailatul Qadar bukan hanya momentum waktu, tetapi momentum kesadaran. Boleh jadi seseorang tidak mengetahui secara pasti malamnya, namun ia meraih hakikatnya karena hatinya telah siap.
Syiar Sholawat dan Pendidikan Ruhani
Lantunan sholawat dari Althafun Nisa’ – Ngunut menambah kekhusyukan suasana. Rebana yang ditabuh dengan penuh cinta menjadi pengingat bahwa jalan menuju Allah juga ditempuh melalui mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ.
Kehadiran para santriwan dan santriwati serta siswa-siswi SMP Islam KH. Ahmad Badjuri menunjukkan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kedalaman spiritual.
Menjadikan Setiap Malam sebagai Lailatul Qadar
Di penghujung kajian, Prof. Muntahibun Nafis mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya menanti satu malam tertentu, tetapi menjadikan sepuluh malam terakhir sebagai ladang penyucian jiwa.
“Jika hati telah fana dari selain-Nya, maka setiap malam adalah cahaya. Dan jika hati masih terikat dunia, maka malam seribu bulan pun bisa berlalu tanpa makna.”
Ramadhan Paradise bukan sekadar program kajian, tetapi perjalanan bersama menuju Ma’rifatullah — mengenal Allah dengan hati yang bersih dan jiwa yang tunduk.
Semoga setiap tarikan nafas di sisa Ramadhan menjadi jembatan menuju kedekatan dengan-Nya, dan semoga kita termasuk hamba yang dipertemukan dengan hakikat Lailatul Qadar. 🌙
Suasana penuh kekhusyukan kembali terasa dalam rangkaian kegiatan Ramadhan Paradise yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Salafiyah MADU KH. Ahmad Badjuri Campurdarat. Mengangkat tema “Istiqamah...