Connect with us

Internasional

Warga India Menanti Izin WHO Bagi Vaksin Covaxin

Diterbitkan

pada

Arsip Foto - Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan memegang dosis vaksin COVID-19 Bharat Biotech yang disebut Covaxin di New Delhi, India, 16 Januari 2021. Dok: Reuters.

Pandalam  – Tertahan di sebuah desa di selatan India selama sembilan bulan. Sugathan P.R. berharap Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui vaksin Covaxin agar bisa kembali bekerja di Arab Saudi. Seperti Sugathan, jutaan orang India telah suntik dengan vaksin COVID-19 buatan India itu. Banyak dari mereka mengeluhkan aturan perjalanan di sejumlah negara yang belum mengakui vaksin tersebut.

“Saya tak bisa terus berdiam diri seperti ini,” kata Sugathan, 57 tahun. Ia kembali ke tengah keluarganya di desa Pandalam, Kerala, pada Januari. Setelah melewatkan pemakaman ayahnya tahun lalu ketika pandemi mengganggu penerbangan.

“Saya punya pilihan untuk pergi ke Saudi dan menerima (dosis tambahan) Covishield setelah karantina empat hari. Akan tetapi, saya tidak yakin dengan efeknya pada kesehatan saya,” kata Sugathan, merujuk pada vaksin AstraZeneca. “Jika izin Covaxin tak ada, saya akan ambil risiko untuk pergi. Menerima vaksin yang Saudi setujui,” katanya sambil duduk di rumahnya yang luas dan menghadap sawah.

Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan pada Selasa bahwa para ahli independen telah meminta “klarifikasi tambahan”. Klarifikasi ini dari pembuat Covaxin, Bharat Biotech, untuk penilaian akhir pada 3 November. Badan internasional itu telah mempertimbangkan data yang Bharat Biotech berikan sejak awal Juli.

Tanpa lampu hijau dari WHO, vaksin dua dosis Covaxin tak akan bisa mendapat pengakuan secara global. Hal tersebut akan menyulitkan warga India yang sudah menerima vaksin untuk pergi ke luar negeri.

Rajan Pallivadakethil Unnunni, 59 tahun sebelum pulang ke India akhir tahun lalu, mengaku tidak bisa kembali bekerja. Sebab Kuwait tidak mengakui Covaxin. Ia kini berjuang membayar pinjaman bank sebanyak 20 ribu dolar AS (Rp283,5 juta). Dengan cara menjual ayam di sebuah kios kecil di Kerala dan menghasilkan 4 dolar sehari (Rp60 ribu).

“Jika saya tak bisa kembali ke Kuwait, saya tak akan mampu melunasi pinjaman. Pun untuk membiayai pendidikan anak-anak saya,” kata Rajan yang duduk di atas bangku plastik di depan kiosnya.

“Saya bisa membeli tiket ke Kuwait jika aplikasi pemerintah Kuwait menunjukkan sinyal hijau.” (Reuters)

Continue Reading
Advertisement

Internasional

“Perjalanan Pertama”, Film Kolaborasi Indonesia dan Malaysia

Diterbitkan

pada

"Perjalanan Bersama" (2021). Sumber: Antara.

Jakarta – Sukses dengan film dokudrama “Kemarin”, Mahakarya Pictures kembali dengan film ketiga karya sutradara Arief Malinmudo bertajuk “Perjalanan Pertama”, dengan menggandeng rumah produksi asal Malaysia, D Ayu Pictures.

Bukan hanya rumah produksi yang mereka gandeng, namun dalam “Perjalanan Pertama” ada dua aktor antarnegara yang terlibat. Mereka adalah Muzakki Ramdhan, aktor cilik berbakat yang sebelumnya pernah mengisi suara Nussa dalam serial dan film animasi “Nussa”. Ia bersanding dengan Dato Tamimi Siregar, aktor berusia 70 tahun yang cukup kenamaan di Negeri Jiran.

“Film ini menjadi sangan spesial bagi saya, dapat bekerjasama dengan yang yatu aktor legendaris dari Malaysia, Dato Tamimi Siregar, dan yang satu laginya merupakan rising star perfilman Indonesia, Muzakki,” ujar sutradara Arief Malinmudo melalui keterangannya, Jumat.

“Perjalanan Pertama” berlatar belakang kisah keluarga antara kakek dan cucunya. Dendy Reynando selaku produser dan CEO Mahakarya Picture mengaku jatuh cinta saat membaca skenario filmnya.

“Film dengan nilai-nilai keluarga selalu penting buat saya dalam membaca kembali tentang diri kita,” jelas produser film “Liam & Laila” tersebut.

Selain kedua tokoh utama, film ini juga dihiasi banyak bintang seperti Adinda Thomas, Randy Pangalila, Gilang Dirga, dan Ricky Komo. Sebelum siap tayang secara nasional pada Februari 2022 mendatang, film ini juga sudah masuk dalam nominasi Best Feature Drama, Muslim Film Festival, Australia 2021.

“Perjalanan Pertama” terpilih sebagai film yang turut berkompetisi di JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival). Ini merupakan salah satu festival film terbesar di Asia. JAFF ikut berpengaruh terhadap perkembangan film di Asia.

Penayangan di JAFF dilakukan pada 2 dan 3 Desember 2021 di bioskop Empire XXI, Yogyakarta. Film ini juga mendapat tanggapan yang bagus, terlihat dari testimoni penonton setelah menontonnya. (*/anz)

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: