Trenggalek – Melestarikan Warisan Leluhur dengan Menjadi Pengrajin Warangka

130

Trenggalek – Pusaka seperti keris merupakan senjata warisan leluhur yang harus dilestarikan. Mungkin hal itulah yang ada dalam benak Supendik, warga Ngulangkulon, Kecamatan Pogalan. Pasalnya tak terduga dirinya tertarik akan pusaka warisan leluhur tersebut. Dan hingga mendapat berkah ketika beralih pekerjaan sebagai pengerajin warangka keris. Terdengar suara bunyi gerinda, setelah mendengarnya secara seksama ternyata suara tersebut berasal dari salah satu rumah milik Supendik yang lagi menghaluskan kerajinannya.

Terlihat ia begitu fokus dalam menyelesaikan kerajinannya, hingga beberapa kali melihat beberapa bagian yang kurang dan perlu menghaluskannya lagi. Supendik adalah pengrajin warangka keris yang sudah berpuluh puluh tahun menekuni pekerjaan membuat warangka keris. Supendik mengatakan, menjadi seorang pengerajin warangka sebenarnya tanpa dugaan. Karena sebelumnya ia adalah seorang pekerja serabutan di bangunan.

Namun, sejak tahun 1990 tahun lalu, tiba-tiba ia tertarik ketika ayahnya memperlihatkan sebilah keris koleksi sang ayah. Bersamaan itu sang ayah mengajarinya bagaimana cara membuat warangka hingga membuat kerisnya.

Sejak situlah secara berangsur ia mulai senang akan keberadaan keris. Hingga ingin mempelajari makna yang terkandung dalam isinya. Sebab selain sebagai senjata, keris merupakan pusakan peninggalan nenek moyang yang harus terlestarikan agar tidak punah seiring perkembangan zaman. Proses pembelajaran tersebut berdasarkan sisi seni yang terkandung. Apalagi dalam membuat kerangka, yang memiliki bentuk yang berbeda pada setiap daerah. Dari situlah ia mulai terus mempelajari cara membuat warangka tersebut.

Selain itu, karena keeinginan yang kuat, ia mencari ilmu dari pengerajin daerah lain seperti Magetan, Solo, dan Jogjakarta. Akhirnya, sedikit, demi sediki ia mulai menguasai bagaimana cara membuat warangka keris yang baik, hingga para pecinta keris lain menyukainya.

Cara pembuatan warangka keris sendiri berawal dari mencari bahan baku. Untuk sekarang ia paling banyak  menggunakan bahan baku dari kayu sono. Sebab, tekstur kayunya kuat, mudah terbentuk dan bisa tahan lama. Namun dalam pemilihan kayu tersebut tidak boleh asal. Karena keindahan dan seni warangka keris dapat terlihat dari pola kayu yang menjadi bahan baku. Sehingga setiap kali mencari bahan baku, ia selalu melihat pola serat kayu tersebut.

Dari semua jenis kayu yang paling bagus adalah jenis kayu timo, sebab memiliki pola serat dan warna yang bagus cocok. Dan pastinya harganya lebih mahal. Namun sekarang sulit untuk mendapatkan kayu jenis tersebut.  Sehingga kebanyakan warangka terbuat dari bahan kayu sono, klengkeng, dan jati.

Dalam pembuatannya hal tersulit adalah bagian membuat pola pada bagian pidakan, keatas. Sebab, pada bagian tersebut menentukan ciri khas kerisdaerah, Seperti solo, mataram, dan sebagainya. Sehingga pengerajin harus jeli dalam mengukirnya.

Biasanya harga satu buah warangka keris berkisar Rp. 200 ribu hingga jutaan rupiah. Harga tersebut bisa lebih tinggi tergantung bentuk dan jenis bahan yang terpakai. Sebab harganya bisa lebih Rp 1 juta. Tak ayal, kualitas warangka buatannya sudah terkenal dari luar daerah. Buktinya banyak pecinta dari Solo, Jogjakarta dan sebagainya secara rutin memesan. (wn)