Trenggalek – Bertahan di Kala Pandemi, Warga Budidaya Lebah Madu Klanceng

166

Trenggalek – Saat pandemi ini dan berbekal rasa penasaran, sejumlah warga di Trenggalek tetap membudidayakan lebah kelulut atau klanceng (trigona bee) untuk diambil madunya. Proses budidaya tidak terlalu sulit. Akan tetapi, tetap membutuhkan pengawasan.

Ratusan kotak kayu berukuran kecil tampak berjajar rapi di teras milik salah satu warga di Dusun Banyon, Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Trenggalek. Kotak seukuran laci mesin jahit ini merupakan sarang lebah kelulut atau klanceng yang membudidayakan oleh warga.

Salah seorang peternak kelulut, Sujarni, mengatakan, proses budidaya klanceng tersebut mulai warga kembangkan di Dusun Banyon sejak dua tahunan ini. Saat ini terdapat sekitar lima warga yang beternak.

Satu peternak ada yang memiliki hingga lebih dari seratus sarang, namun ada ada juga yang masih puluhan. Mereka belajar secara otodidak, tanpa melalui pelatihan maupun bimbingan khusus dari para ahli.

Proses budidaya hewan berkoloni ini berawal dari rasa penasarannya saat menemukan salah satu sarang lebah kelulut di salah satu batang bambu. Saat bambu terbelah terdapat madu yang cukup banyak. Dari situlah akhirnya ia mencoba mengembangkan ke dalam kotak-kotak kecil ini.

Pada tahap awal, Sujarni mengaku sempat mengalami kesulitan. Terutama cara pemisahan sarang dapat menjadi beberapa koloni. Namun setelah melakukan beberapa kali percobaan, akhirnya iapun sukses membuat melakukan budidaya.

Beternak lebah klanceng atau kelulut menurutnya lebih ringan, daripada berternak hewan lain karena tidak membutuhkan perawatan yang rumit, terlebih hewan bersayap tersebut tidak membutuhkan penyediaan pakan.

Untuk mendukung peternakan lebah klanceng, ia cukup menyediakan getah pinus di dekat kandang.  Hal ini guna mempermudah lebah dalam mencari bahan untuk proses produksi. Selain itu agar produksi madunya lebih banyak, di sekitar lokasi kandang sebaiknya ada tanaman bunga.

Sementara itu, dari hasil peternakan yang berkembang setengah tahun terakhir, satu peternakan rata-rata mampu menghasilkan madu hingga 2 liter. Harga madu murni itu rata-rata Rp. 600 ribu per liter.

Menurut peternak lain, Suyoto, pemasaran madu klanceng hanya mengandalkan pesanan dari mulut ke mulut. Biasanya madu baru diunduh apabila ada pemesan yang datang langsung ke rumahnya. Pihaknya berharap ada proses pembinaan lebih lanjut disaat pandemi seperti ini, sehingga budidaya madu klanceng tersebut bisa berkembang dengan baik.  -wn