Tradisi Ritual Suro di Desa Dringu, Probolinggo: Menghadirkan Kemakmuran dan Keselamatan

122

Probolinggo – Tradisi Ritual Suro dan Arak-arakan Hasil Bumi yang digelar oleh tokoh warga setempat, Samse, telah kembali menyatukan ribuan warga desa dalam suka cita. Ritual yang menghadirkan keris panjang berukuran hampir dua meter dan hasil bumi seperti jagung, bawang merah, ketimun, kacang panjang, ikan, serta padi ini, menjadi ajang perayaan yang membius hati masyarakat sepanjang jalan desa.

Dalam puncak acara, Samse, tokoh spiritual di Desa Dringu, memimpin ritual suro di depan rumahnya sebelum mengarak hasil bumi tersebut keliling di seluruh desa. Rute arak-arakan ini memadati jalan desa dengan warga yang tak henti menyaksikan hiburan dan tarian Reog Ponorogo yang memukau.

Ritual suro dengan arak-arakan hasil bumi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan identitas warga Desa Dringu. Selain sebagai ajang perayaan yang meriah, ritual ini juga diyakini membawa berkah dan keberkahan bagi kemakmuran desa serta keselamatan bagi seluruh warganya.

Menurut Samse, tokoh warga yang berperan penting dalam menghidupkan tradisi tersebut, ritual suro dengan arak-arakan hasil bumi dilakukan setiap tahun sebagai agenda rutin. “Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dari nenek moyang kita dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Dringu,” ujarnya.

Setelah perarakan selesai, hasil bumi yang diarak langsung diserbu oleh warga setempat dengan semangat gotong royong. Kegiatan ini mencerminkan kekompakan dan persatuan yang kuat dalam masyarakat Desa Dringu.

Ritual suro dan arak-arakan hasil bumi ini telah memberikan semangat baru bagi warga Desa Dringu. Mereka percaya bahwa melalui upacara ini, desa mereka akan semakin makmur dan warganya akan selalu dilindungi.

Semangat meriah dan kekompakan yang terpancar dari ritual suro ini menjadi contoh positif bagi masyarakat lainnya. Tradisi ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga melestarikan kekayaan budaya Indonesia yang kaya dan beragam.

Momentum bersejarah ini semakin membuktikan bahwa tradisi lokal tetap relevan dan berharga, serta harus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang. Semoga ritual suro dan arak-arakan hasil bumi di Desa Dringu akan terus menjadi pesta rakyat yang menyatukan hati dan menghadirkan berkah bagi kemakmuran dan keselamatan masyarakat setempat.