Beranda Berita Super Drag Lomba Adu Kecepatan Menurunkan Layang-Layang Gapangan

Super Drag Lomba Adu Kecepatan Menurunkan Layang-Layang Gapangan

51
0

Dalam rangka memeriahkan H-U-T Ke-74 Kemerdekaan R-I, Karang Taruna Di Tulungagung, Jawa Timur, menggelar lomba unik, yakni super drag, lomba adu kecepatan menurunkan layang-layang jenis gapangan, dengan minimal bentang sayap 130 centimeter. Lomba yang di gelar di area persawahan ini, ditentukan pemenangnya, jika si joki dapat menurunkan layang-layang paling cepat, tanpa putus talinya, dan tidak jatuh menghunjam ke tanah.

Mendengar kata-kata super drag, tentunya kita langsung membayangkan lomba adu cepat mobil maupun sepeda motor disebuah arena balap. Namun bayangan itu salah, super drag yang satu ini, merupakan jenis perlombaan yang di gelar oleh karang taruna desa sumber ringin kulon, kecamatan ngunut, tulungagung, jawa timur, yakni lomba adu kecepatan menurunkan layang-layang, yang di gelar di area persawahan bekas tanaman padi.

Uniknya, layang-layang digunakan bukanlah layang-layang untuk adu sambitan, namun layang-layang digunakan berbentuk gapangan, atau lazim di sebut layangan sowangan yang dapat berbunyi, saat di angkasa. Dalam lomba super drag ini, panitia menentukan minimal layang-layang memiliki bentang sayap 130 centimeter, dan harus menggunakan sendaren atau sowangan.

Sedangkan beberapa aturan yang diberlakukan dalam perlombaan ini, diantaranya pemenang adalam pemegang layang-layang tercepat, penarik atau joki tidak boleh keluar dari garis batas, layangan tidak boleh putus, dan layangan tidak boleh jatuh menghunjam ke tanah.

Dalam perlombaan ini, satu peserta terdiri dari 2 pemain, yakni penarik atau joki, yang bertugas mengendalikan, dan menarik cepat-cepat layangan gapangan, sedangkan pelontar bertugas melontarkan layang-layang yang akan diterbangkan. Sedangkan benang untuk menarik layang-layang, menggunakan senar yang disedikan panitia, dengan panjang 100 meter.

Pada super drag dalam memeriahkan H-U-T Ke-74 Kemerdekaan R-I kali ini, diikuti oleh ratusan peserta yang datang dari berbagai kota disekitar Tulungagung, Seperti Blitar, Nganjuk, Dan Trenggalek. Kencangnya angin serta angin yang berputar, sangat menyulitkan para joki untuk mengendalikan layang-layangnya, sehingga banyak senar talik penarik saling gesek, sebabkan salah satu layang-layang putus, dan menghunjam ke tanah.

Perlombaan dengan menggunakan sistem gugur, namun dalam 1 race tidak ada pemenangnya, makan akan di ulang lagi, hingga mendapatkan satu pemenang. Selain tropi, pada lomba adu kecepatan menurunkan layang-layang ini, pemenang pertama mendapat uang pembinaan 1 juta rupiah, pemenang kedua 750 ribu, dan pemenang ketiga 500 ribu rupiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

98 − = 92