spot_img
Sabtu, Maret 7, 2026
Beranda NASIONAL PT Pupuk Indonesia Harus Tindaklanjuti Temuan BPK

PT Pupuk Indonesia Harus Tindaklanjuti Temuan BPK

284

Jakarta – Terdapat laporan temuan BPK semester II tahun 2020 terhadap PT Pupuk Indonesia (Persero) dan anak perusahaannya. Anak perusahaannya meliputi, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Kujang. Selain itu, PT Pupuk Sriwijaya Palembang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik. Ada juga PT Pupuk Indonesia Logistik. Dalam laporannya, terdapat penemuan beberapa penyimpangan yang merugikan negara. Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet, menyampaikan, di tengah penghargaan atas keberhasilan PT Pupuk Indonesia HC dalam membukukan keuntungan, tetap harus juga memperhatikan temuan BPK tersebut. “Jangan sampai ada kesan subsidi pupuk untuk petani justru banyak dinikamati  BUMN Pupuk,“ tukas Slamet, Selasa (20/7/2021).

Slamet menjelaskan, ada banyak temuan BPK terkait Harga Pokok Produksi (HPP) yang terlalu tinggi. Hal ini karena tercatat juga biaya-biaya yang seharusnya bukan komponen biaya produksi. Sehingga, tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01/Permentan/Sr.130/1/2012 tentang Komponen Harga Pokok Penjualan Pupuk Bersubsidi untuk sektor pertanian.

“Temuan lain dalam laporan BPK tersebut adalah terkait manajemen hubungan kerja dengan para rekanan yang menyebabkan pemborosan pada biaya distibusi. Ujungnya menjadi beban Harga Pokok Produksi yang menyedot subsidi pupuk negara pada pembiayaan yang tidak semestinya,” ungkapnya.

Di samping itu, Slamet mengungkapkan, penyaluran pupuk bersubsidi belum terencana, terlaksana, dan terpantau secara cermat, sehingga tidak tepat sasaran. Mulai dari distributor sampai ke pengecer. Hal ini berpotensi ada petani yang tidak mendapatkan haknya sesuai eRDKK, atau menyebabkan kelangkaan pupuk di lapangan.

“Persoalan besar pupuk bersubsidi terletak pada besarnya angka subsidi pupuk oleh negara. Hal ini menyebabkan pupuk bersubsidi langka, sehingga tetap tidak bisa terasa oleh banyak petani dan tidak bisa mendongkrak produktifitas petani. Alhasil angka pertumbuhan produksi panen padi petani menjadi stagnan bahkan cenderung menurun,” papar Legislator Fraksi PKS itu. Ia mengatakan angka subsidi yang sebesar 34,2 triliun hanya baru mensubsidi sekitar 34 persen dari kebutuhan eRDKK, atau sekitar 8,8 juta ton dari 26,2 juta ton.

Ia mengatakan, di sisi lain kita sebenarnya banyak melihat kemampuan petani. UKM dan perusahaan swasta menciptakan pupuk murah yang bagus, dan petani meng. Tetapi pemerintah melakukan pembatasan dan mekanisme izin yang super ketat, sehingga sulit tertembus, lebih ketat dari masuknya pupuk impor.

“Di tengah kelangkaan pupuk bersubsidi dan tingginya subsidi pupuk, saya menyarankan agar presiden membuka pembatasan peran serta masyarakat untuk ikut membangun negara melalui penemuan pupuk bagus dan murah dan menekan pemborosan. BUMN harus efisien dan tidak kalah bersaing dengan pupuk buatan petani, UKM atau swasta lainnya,” pungkasnya. (dep/es)